BACAAJA, JAKARTA – Isu potongan penghasilan driver ojek online kembali naik ke permukaan, dan kali ini bukan sekadar obrolan di jalanan. Pemerintah mulai ambil langkah serius setelah arahan langsung dari Prabowo Subianto yang menilai potongan dari aplikator sudah saatnya ditinjau ulang.
Sorotan ini muncul setelah banyak keluhan dari para driver ojol yang merasa beban potongan terlalu besar. Di tengah kerja keras di lapangan, mereka berharap porsi penghasilan bisa lebih adil.
Menanggapi hal itu, Menteri UMKM Maman Abdurrahman memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Arahan presiden langsung ditindaklanjuti sebagai bagian dari upaya merespons aspirasi para driver.
“Tentunya apa yang memang disampaikan oleh Presiden itu kan memang menjadi aspirasi dari teman-teman ojol. Dan kami dari Kementerian UMKM akan menindaklanjutinya,” ujarnya saat ditemui di Hotel Tavia Heritage.
Langkah awal yang akan diambil adalah mengajak semua pihak duduk bareng. Pemerintah nggak mau ambil keputusan sepihak tanpa mendengar langsung dari para pelaku di lapangan.
Kementerian UMKM bakal menggandeng Kementerian Perhubungan untuk membahas teknis kebijakan ini lebih dalam.
Nggak cuma itu, pihak aplikator juga bakal dipanggil untuk diajak diskusi terbuka soal skema potongan yang selama ini diterapkan.
“Dan juga kita akan memanggil, nanti bersama-sama dengan Kementerian Perhubungan tentunya kita akan berbicara dengan pihak aplikator,” kata Maman.
Rencana pemanggilan ini bahkan disebut bakal dilakukan dalam waktu dekat, menandakan isu ini memang lagi diprioritaskan.
“Ya, kita akan panggil, akan untuk menindaklanjuti apa yang memang menjadi arahan dari Bapak Presiden,” lanjutnya.
Di tengah polemik ini, muncul juga kekhawatiran soal dampaknya ke pelaku UMKM, terutama yang bergantung pada layanan ojol untuk distribusi makanan dan minuman.
Namun Maman menilai perubahan skema potongan ini tidak akan berdampak signifikan ke UMKM.
Menurutnya, sistem bagi hasil yang dibahas sebenarnya terjadi antara aplikator dan driver, bukan langsung dengan pelaku usaha.
“Saya lihat sih fine-fine aja ya semuanya. Saya pikir nggak ada yang perlu kita lihat mana yang untung, mana yang rugi,” ujarnya.
Artinya, UMKM tetap bisa berjalan seperti biasa tanpa harus khawatir terganggu oleh perubahan kebijakan ini.
Sebelumnya, pernyataan tegas datang langsung dari Prabowo saat peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monas.
Dalam momen itu, Prabowo secara terbuka menyoroti besaran potongan yang dinilai terlalu besar.
Ia bahkan menyinggung angka potongan 20 persen yang selama ini banyak dikeluhkan driver.
“Ojol mempertaruhkan jiwanya tiap hari. Ojol, aplikator perusahaan minta disetor 20 persen,” katanya.
Dalam gaya bicaranya yang khas, Prabowo juga menegaskan bahwa angka potongan seharusnya tidak lebih dari 10 persen.
Bahkan menurutnya, angka ideal justru harus di bawah itu agar lebih adil bagi driver.
Ia menilai driver adalah pihak yang bekerja langsung di lapangan dan menghadapi risiko setiap hari.
“Enak aje. Loe yang keringat, dia yang dapat duit,” ucapnya dengan nada tegas.
Pernyataan itu langsung jadi perhatian luas, terutama di kalangan driver ojol yang selama ini merasa suaranya kurang terdengar.
Kini, dengan adanya tindak lanjut dari pemerintah, harapan baru mulai muncul.
Diskusi antara pemerintah dan aplikator diharapkan bisa menghasilkan solusi yang lebih seimbang.
Karena di balik aplikasi yang terlihat simpel, ada ribuan bahkan jutaan pengemudi yang menggantungkan hidupnya di sana.
Dan keputusan soal potongan ini bukan cuma soal angka, tapi juga soal keadilan bagi mereka yang setiap hari bekerja di jalanan. (*)

