BACAAJA, SEMARANG – Portal pembatas tinggi kendaraan di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) yang sempat jadi “andalan” buat nahan truk besar, kini justru jadi bahan omongan.
Setelah sempat ambruk, banyak pengguna jalan mulai mempertanyakan: ini solusi beneran atau malah nambah masalah?
Awalnya, portal ini dipasang buat membatasi kendaraan bertonase besar, terutama truk, biar nggak melintas di jam-jam padat.
Bacaaja: Portal 3,4 Meter Bikin Sopir Truk Ngeri Lewat Silayur, Jalanan Jadi Lebih Tertib
Bacaaja: Portal BSB Bikin Truk Nggak Lagi Bebas Lewati Silayur
Kebijakan ini juga didasari data kepolisian dan dinas perhubungan yang menyebut kecelakaan di kawasan tersebut sering melibatkan kendaraan berat. Tapi di lapangan, ceritanya nggak sesimpel itu.
Letaknya yang ada di dekat tikungan, khususnya akses menuju kampus, bikin sopir truk sering kaget. Nggak sedikit yang baru sadar tinggi muatannya nggak masuk pas sudah mepet portal. Akhirnya? Rem mendadak, lalu lintas di belakang langsung mengular.
“Kalau memang portal itu jadi solusi, harusnya pelaksanaannya juga maksimal. Minimal ada petugas yang berjaga, jadi kalau ada kendaraan kesulitan bisa langsung dibantu, bukan malah bikin macet,” kata Mirzanur, mahasiswa yang sering melintas di jalur tersebut, Kamis (30/4/2026).
Masalahnya, pengawasan di lokasi juga masih minim. Tanpa petugas, pengemudi harus ambil keputusan sendiri di situasi yang serba terbatas, termasuk saat harus putar balik di jalan yang nggak terlalu lebar.
Hal serupa juga disorot Qotrunnada, pengguna jalan lainnya. Menurutnya, posisi portal kurang strategis dan berpotensi membahayakan.
“Menurut saya penempatannya kurang pas, apalagi dekat tikungan. Pengendara yang belum familiar bisa kaget, itu bahaya,” ujarnya.
Ia bahkan menilai portal belum tentu jadi solusi paling efektif.
“Kalau bisa sih, jalur truk dipisah aja. Jadi nggak campur sama kendaraan kecil di jalan yang sama,” tambahnya.
Ambruknya portal ini jadi semacam wake up call kalau solusi infrastruktur nggak cukup cuma dibangun. Harus dipikirin matang dari awal, mulai dari lokasi, pengawasan, sampai skema lalu lintasnya.
Kalau nggak segera dievaluasi, bukan nggak mungkin niat bikin jalan lebih aman justru berbalik jadi sumber masalah baru di kawasan BSB. (dul)

