Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Soros dan Antek-Antek Asing
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Soros dan Antek-Antek Asing

Redaktur Opini
Last updated: April 23, 2026 8:43 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Warna kanan trumpisme Amerika sangat kental di rezim penguasa Indonesia saat ini.

 

Viktor Orban, simbol kekuatan ekstrem kanan di Eropa, akhirnya jatuh. Perdana Menteri Hungaria itu kalah pemilu. Ia kalah dari Peter Magyar, bekas loyalisnya yang kemudian menjadi oposisi.

Orban adalah anak kesayangan politisi-politisi konservatif Amerika Serikat (AS). Donald Trump dumb dumb menjadi pendukung kuatnya. Wapres AS, ames David Vance, another Trump dumb dumb bahkan ke Hungaria dan berkampanye untuk Orban. Itu dilakukannya sebelum ke Pakistan dan berunding dengan Iran, yang hasilnya nol besar. Simbol kekuatan ekstrem kanan Eropa, yang anti imigran, ini akhirnya jatuh. Sekalipun sudah mendapat dukungan asing sepenuhnya!

Mungkin Anda tidak tahu siapa Viktor Orban dan apa relevansinya untuk Indonesia. Seperti yang saya sebutkan di atas, dia adalah PM Hungaria. Salah satu kebijakannya yang terkenal adalah anti-Soros, pendiri filantropi Open Society Foundation. Dia menutup universitasnya George Soros, The Central European University, yang ada di Budapest.

Uniknya lagi, studinya si Orban dulu juga diberi beasiswa oleh Soros. Untuk politisi macam Orban, seperti banyak politisi lain di dunia, membuat musuh bersama itu lebih menguntungkan ketimbang membuat kesejahteraan bersama. Musuh bersama itu lebih murah dan mudah dibuat serta lebih mampu mengalihkan perhatian.

Ini tidak diterapkan di Hungaria saja. Juga di Amerika. Rezim Trump dan kaum konservatif kanan menjadikan Soros sebagai samsak (punching bag) yang gampang dipukul. Dia Yahudi. Dia kaya raya. Filantropinya membiayai politik progresif dan masyarakat terbuka.

Di Indonesia, dosa Soros masih diingat orang. Dialah yang menghancurkan rupiah dan baht pada saat krisis ekonomi 1997. Dia meramalkan dua mata uang ini akan jatuh dan kemudian menjadikannya bahan spekulasi. Milyaran dolar hilang waktu itu. Hasilnya? Rezim Soeharto jatuh.

Soros adalah seorang ahli matematika. Selain itu, dia juga belajar filsafat di bawah Karl Popper. Filsafat itulah yang membuatnya berpikir bahwa kemajuan umat manusia hanya bisa tercapai dengan adanya masyarakat terbuka—yang bebas mengungkapkan ide-idenya. Bebas bicara. Punya ruang terbuka untuk mengadu gagasan. Dan semua pihak bisa bersuara dan yang berkuasa mendengarkan. Apa artinya itu? Silahkan tafsirkan sendiri. Namun, bukan prinsip itu yang membuat Soros dibenci banyak penguasa. Karena jika prinsip berhenti pada prinsip saja, tidak akan berarti apa-apa.

Soros, dengan kekayaannya, mendirikan filantropi untuk membangun masyarakat terbuka ini. Di situlah masalahnya. Secara natural, dia membiayai banyak gerakan progresif karena kaum ekstrem kanan, para otokrat, diktator, dan para pemimpin otoriter tidak suka masyarakat terbuka.

Soros memberi donasi untuk gerakan perempuan, gerakan LGBTQ, kaum muda, gerakan-gerakan emansipatif, pendeknya semua gerakan yang mendorong kaum marjinal supaya bisa berpartisipasi dan punya kekuatan. Itulah masyarakat terbuka.

Di negeri kita, gelombang anti-Soros pun sedang naik akhir-akhir ini. Teriakan “hai … antek-antek asing!” itu mengarah ke sana. Bahkan kemarin saya melihat staf kantor presiden membuat video yang merujak NGO-NGO (Non-Governmental Organization) yang menerima bantuan asing itu. Staf yang sama membuat pembenaran mengapa bosnya ikut Board of Peace (BoP). Bahkan bikin singkatan baru Board of Prabowo.

Hanya saja, kelihatan argumennya kedodoran karena dia tidak bisa membedakan begitu banyak aktor pendana gerakan emansipasi di dunia ini. Ingat, Soros hanya salah satunya! Namun, satu hal yang jelas dari semua lini argumen yang dikemukakan oleh orang-orangnya rezim penguasa di Indonesia ini. Mereka semua membeo pada argumen rezim Trump di Amerika Serikat. Untuk saya, yang belajar sedikit banyak politik Amerika, warna kanan trumpisme Amerika sangat kental di rezim penguasa Indonesia saat ini.

Satu hal juga sama persis adalah bahwa rezim-rezim ini adalah ‘the master of complainer‘ alias tukang mengeluh nomor satu. “Kita bangsa yang besar, yang dikibuli sehingga miskin terus!” … itu kalau di sini. “Make America Great Again” … itu kalau di sono. Namun, di sisi yang lain juga sangat bombastik. Di sini: “Kita buka 2,6 juta hektar food estate! 10 juta hektar sawit! 82 juta anak Indonesia makan MBG! 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih! 500 batalyon teritorial pembangunan yang bertani, beternak, piara ikan! 250 batalyon tempur baru!”

Di sono: Saya bisa selesaikan perang Ukraina-Rusia dalam 24 jam! Bensin akan murah! Semua negara akan datang ke kita dan nyembah-nyembah minta penurunan tarif…. Dan, terakhir, satu lagi yang sama: kedua-duanya sangat tidak kompeten mengerjakan apa pun! Di sono, negaranya terjebak dalam perang tak perlu. Di sini, negaranya terancam bangkrut karena program-program yang tidak perlu.

Yang salah siapa? Ya, Soros! Antek-antek asing! Sejak kecil kita belajar bahwa tanda dari ketidakmampuan adalah dengan menyalahkan orang lain.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

Surat Terbuka untuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan

Tidak Seharusnya Logat “Lo-Gue” Menjadi Superior dalam Pergaulan, Apalagi Ini di Semarang

Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ketahuan Curang UTBK, Alat Tersembunyi Bikin Geger Kampus Semarang
Next Article Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar. (bae) Pemkot Klaim Anak Muda Semarang Mulai Lirik Budaya Lokal di Tengah Gempuran K-Pop, Benarkah?

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dari Bali Sampai Madura, Sekolah Rakyat Terus Bertambah Cepat

Ada yang Beda! Pulang Haji Jemaah Sulawesi Selatan Pakainnya Warna Warni Banget

BAYI KAPIBARA--Induk kapibara mengasuh dua anaknya yang belum lama lahir di Semarang Zoo. (ist)

Semarang Zoo Punya Penghuni Baru, Dua Anakan Kapibara Lahir

Sekretaris Jenderal DPN Peradi SAI, Patra M. Zen (tengah), didampingi Ketua Peradi SAI Kota Semarang (kanan), berbicara kepada wartawan usai mengisi seminar rangkaian Muscab di Semarang, Sabtu (6/6/2026). (ist)

Sekjen Peradi SAI: Advokat Jangan Cuma Cari Duit, Warga Miskin Juga Dibela

TERPILIH AKLAMASI - Sari Yuliati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Kosgoro dalam Musyawarah Besar (Mubes) V Kosgoro 1957 Tahun 2026, di Merlin Park, Jakarta.

Saleh Ucapkan Selamat! Sari Yuliati Resmi Secara Aklamasi Jadi Ketum Kosgoro 1957

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Sisi Gelap Logika Efisiensi

Mei 25, 2026
Opini

Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya

November 27, 2025
Opini

Fenomena “Trial by Netizen” dan Krisis Etika di Ruang Digital

April 20, 2026
Opini

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Januari 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Soros dan Antek-Antek Asing
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?