BACAAJA, JAKARTA — Internal Partai Persatuan Pembangunan lagi nggak adem. Ketua dan sekretaris DPW se-Indonesia kompak mendesak Ketua Umum Muhamad Mardiono buat ngevaluasi bahkan mengganti Sekjen Taj Yasin.
Desakan ini muncul di Rapat Koordinasi Nasional I PPP. Harusnya sih forum konsolidasi, tapi yang terjadi malah jadi ajang curhat nasional soal kinerja Sekjen.
Ketua DPW PPP DKI Jakarta, Saiful Rahmat Dasuki, blak-blakan banget. Ia menilai ada pihak di DPP yang justru jadi penghambat organisasi.
Bacaaja: Mahasiswa Jangan Cuma Rapat: Taj Yasin Ajak Turun Tangan Beresin Masalah Sosial
Bacaaja: Dorong Inklusi, Nawal Yasin Minta Program Difabel Masuk ke Kecamatan Berdaya
Menurut dia, sejak SK Kemenkum keluar, komunikasi soal kepentingan partai justru minim.
“Yang dibahas malah kepentingan pribadi, sudah sekitar enam bulan,” katanya.
Nggak cuma itu, Saiful juga menilai peran Sekjen malah melenceng dari tugasnya. Harusnya jadi motor organisasi, tapi yang ada malah dianggap bikin macet. Bahkan, disebut sudah masuk kategori pembangkangan.
“Ini harus segera ditindak, termasuk diganti,” tegasnya.
Bukan cuma DKI, daerah lain juga satu suara. Sekretaris DPW PPP Sumbar, Mulyadi, bilang masalah ini harus cepat dibereskan biar nggak ganggu kerja partai.
“Kami tetap dukung DPP, tapi Sekjen harus dievaluasi,” ujarnya.
Sementara dari Kalbar, Eka Candra, ngingetin kalau waktu makin mepet jelang agenda politik, di mana seharunya partai semakin solid. Bukan disibukkan diri dengan drama-drama internal.
“Kita nggak bisa nunggu lama, konsolidasi harus jalan,” katanya.
Gus Yasin diminta legowo

Ketua DPW PPP Sulawesi Barat, Ahmad Fauzi Arief Lopa, ikut angkat bicara. Ia terang-terangan mengaku prihatin dengan situasi yang makin panas di internal partai. Menurutnya, dinamika yang terjadi sudah mulai mengganggu jalannya organisasi.
“Situasi ini sudah menghambat dan mengganggu internal partai. Roda organisasi juga terdampak,” ujarnya.
Fauzi secara halus tapi tegas menyinggung posisi Sekjen Taj Yasin. Meski tetap menunjukkan rasa hormat, ia meminta agar konflik tidak terus dipelihara.
“Tanpa mengurangi rasa hormat kami ke Gus Yasin, kami harap konflik ini segera reda. Sudahi sikap yang terlalu mengedepankan ego sektoral,” katanya.
Pesannya jelas: ini bukan lagi soal individu, tapi soal masa depan partai.
Fauzi juga menyinggung pentingnya semua pihak untuk menghormati keputusan pemerintah, termasuk SK dari Kementerian Hukum.
“Kalau terus seperti ini, kasihan partai kita, kasihan kader,” lanjutnya.
Ia bahkan menegaskan, sebagai kader muda, dirinya tidak rela PPP terus terseret konflik internal yang tak kunjung selesai.
Sekarang keputusan ada di tangan Mardiono. Mau tetap pertahankan Sekjen atau ambil langkah tegas?
Yang jelas, situasi internal PPP lagi nggak santai. Kalau nggak cepat dibereskan, bisa-bisa bukan cuma konflik internal, tapi berdampak ke kesiapan partai ke depan. Drama politik? Masih lanjut kayaknya. (*)

