BACAAJA, GAYOLUES – Di tengah kabar bencana yang bikin akses lumpuh total, ada cerita hangat dari pelosok Kabupaten Gayo Lues yang diam-diam bikin haru. Warga Dusun Benteng, Desa Pertik, Kecamatan Pining, tetap bergerak memastikan anak-anak di wilayah mereka tidak kekurangan gizi, meski harus melawan arus sungai yang deras dan berisiko.
Banjir dan longsor yang sempat menerjang kawasan itu bukan cuma merusak alam, tapi juga memutus jalur kehidupan warga. Jembatan kecil yang selama ini jadi penghubung utama antarwilayah ikut hanyut, membuat mobilitas warga praktis lumpuh.
Namun di tengah keterbatasan itu, semangat gotong royong justru makin terasa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dijalankan tanpa jeda, seolah jadi prioritas yang tak bisa ditawar.
Dusun Benteng sendiri dikenal sebagai wilayah pegunungan yang cukup terpencil. Akses menuju lokasi sudah terbatas sejak lama, dan bencana yang datang makin memperparah kondisi yang ada.
Meski dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sempat terdampak, aktivitas memasak tidak pernah benar-benar berhenti. Asap dari dapur tetap mengepul setiap hari, jadi tanda bahwa harapan masih dijaga.
Para ibu dan relawan bahu-membahu menyiapkan makanan dengan bahan seadanya. Peralatan terbatas tak jadi alasan untuk berhenti, justru jadi tantangan yang dihadapi bersama.
Menu yang dimasak tetap diperhatikan gizinya. Mereka memastikan makanan yang disajikan mengandung nutrisi cukup untuk anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
Setelah makanan siap, semuanya dikemas rapi dalam ompreng. Dari situ, perjuangan sesungguhnya baru dimulai—proses distribusi yang penuh risiko.
Masalah utama muncul karena lokasi penerima manfaat berada di seberang sungai. Tanpa jembatan, satu-satunya cara adalah menyeberang langsung di tengah arus yang cukup deras.
Warga tidak tinggal diam. Mereka mencari cara agar distribusi tetap berjalan, meski dalam kondisi darurat.
Akhirnya muncul ide sederhana tapi krusial: tandu bambu. Relawan merakitnya secara swadaya dari bahan yang ada di sekitar.
Ratusan ompreng berisi makanan kemudian diikat kuat di atas tandu tersebut. Semuanya disusun rapi agar tidak mudah jatuh saat dibawa melintasi sungai.
Dengan tenaga bersama, tandu itu dipikul bergantian. Langkah mereka pelan tapi pasti, menembus arus air yang terus mengalir deras.
Setiap pijakan jadi taruhan. Salah langkah sedikit saja bisa berbahaya, tapi tekad mereka jauh lebih besar dari rasa takut.
Beberapa relawan bahkan harus saling berpegangan agar tetap seimbang saat menyeberang. Koordinasi jadi kunci agar semua berjalan aman.
Begitu sampai di seberang, makanan langsung dibagikan. Anak-anak sekolah, ibu hamil, hingga balita akhirnya tetap bisa menikmati asupan bergizi yang mereka butuhkan.
Momen ini bukan sekadar distribusi makanan, tapi juga bukti nyata kepedulian warga terhadap masa depan generasi mereka.
Meski terisolasi dan dihantam bencana, Dusun Benteng menunjukkan bahwa solidaritas bisa jadi kekuatan utama.
Program MBG di wilayah ini bukan sekadar program bantuan, tapi sudah jadi gerakan bersama yang dijaga sepenuh hati.
Kisah ini perlahan menyebar dan jadi inspirasi banyak orang. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada cara untuk tetap peduli.
Semangat warga ini juga jadi pengingat bahwa pembangunan tak selalu soal infrastruktur besar, tapi juga tentang kepedulian kecil yang konsisten.
Di ujung Gayo Lues, perjuangan ini terus berjalan. Sungai boleh deras, jembatan boleh putus, tapi semangat warga untuk menjaga gizi generasi penerus tetap tak tergoyahkan. (*)

