BACAAJA, SEMARANG- Kebijakan work from home (WFH) buat ASN lagi jadi bahan obrolan. Salah satunya soal, bener nggak sih bisa hemat energi? Atau cuma sekadar pindah konsumsi aja dari kantor ke rumah?
Pemerhati lingkungan sekaligus akademisi Soegijapranata Catholic University (SCU), Amrizarois Ismail bilang, kebijakan ini sebenarnya bukan hal baru. WFH sudah pernah diberlakukan saat pandemi, bahkan lebih ketat dan lama.
Baca juga: Jumat WFH, Dinas Dipangkas, ASN Jateng Diajak Lebih “Hemat Mode”
Kalau ngaca ke masa itu, efeknya cukup terasa. Konsumsi energi turun, terutama di beberapa sektor yang biasanya padat aktivitas. Menurut dia, energi itu nggak berdiri sendiri. Dampaknya panjang, termasuk ke polusi yang dihasilkan. Emisi ini jadi salah satu penyumbang besar pemanasan global.
Indonesia sendiri sudah punya komitmen buat menekan emisi. Salah satunya lewat rencana aksi nasional penurunan gas rumah kaca yang fokus ke beberapa sektor, termasuk energi.
Punya Efek
Di sektor ini, ada dua yang jadi sorotan. Pertama listrik, kedua bahan bakar kendaraan atau BBM. Nah, di sinilah WFH dianggap punya efek. Karena orang nggak perlu bepergian, otomatis konsumsi BBM bisa ditekan.
“Kalau nggak ada perjalanan, ya konsumsi bahan bakar kendaraan juga turun,” katanya, Selasa (7/4/2026). Selain itu, aktivitas di kantor juga ikut berkurang. Artinya, penggunaan listrik di kantor bisa ditekan.
Baca juga: WFA Boleh Jalan, Tapi ASN Semarang Nggak Bisa “Ngilang”
Dari sisi ini, WFH terlihat cukup menjanjikan buat efisiensi energi. Tapi pertanyaannya, apakah penghematan itu benar-benar total atau cuma berpindah ke rumah, itu yang masih perlu dikaji lagi.
Karena kalau ujung-ujungnya cuma pindah dari listrik kantor ke listrik rumah, yang berubah mungkin cuma alamat tagihan, bukan jumlahnya. (bae)


