BACAAJA, KENDAL – Isu konflik agraria di Dusun Dayunan, Desa Pesaren, Kendal, makin jadi perhatian. Sejumlah mahasiswa, lembaga bantuan hukum, dan komunitas turun langsung ke lokasi buat nunjukin solidaritas ke petani yang terdampak.
Aksi ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari LBH Semarang, mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), UIN Walisongo, UPGRIS, sampai komunitas seperti Reaksi Kolektif dan Kesenian Kere.
Salah satu peserta, Alif (23), bilang kehadiran mereka bukan sekadar aksi simbolik, tapi bentuk nyata kepedulian.
Bacaaja: Buku ‘Catatan dari Wadas; Penyelesaian Sengketa Agraria Bendungan Bener’, Merekam Konflik Pemerintah vs Rakyat
Bacaaja: Kencan Buyar Gara-Gara Wajah Beda di Aplikasi, Eh Konflik Makin Panjang
Mayoritas mahasiswa yang datang bahkan nggak bawa embel-embel institusi, tapi hadir sebagai representasi suara anak muda yang peduli isu agraria.
“Aku datang karena merasa perlu jadi penyambung lidah dari apa yang terjadi di Dayunan. Nanti informasinya bakal aku sebarkan ke teman-teman kampus,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Selain turun langsung, mahasiswa juga aktif ngumpulin data dan cerita dari warga buat disebarin lewat media sosial. Tujuannya jelas: biar isu ini nggak tenggelam dan makin banyak orang aware. Menurut Alif, dukungan sekecil apa pun tetap berarti.
“Minimal bisa share dan repost. Dari situ kesadaran bisa kebangun,” tambahnya.
Peserta lain, Heru (22), menilai kehadiran mahasiswa punya dampak besar, terutama secara moral buat para petani.
“Paling nggak, kehadiran kita nunjukin kalau mereka nggak sendiri,” katanya.
Selain itu, pengalaman turun langsung ke lapangan juga jadi pelajaran penting buat memahami konflik secara utuh—nggak cuma dari berita, tapi dari realita.
Konflik lama, harapan baru
Konflik agraria di Dayunan sendiri disebut sudah berlangsung cukup lama, dengan dugaan penyerobotan lahan jadi salah satu akar masalah.
Konflik agraria di Dusun Dayunan, melibatkan sengketa lahan berkepanjangan sejak 1970-an antara warga lokal dan PT Soekarli.
Petani mempertahankan lahan atas dasar kepemilikan turun-temurun, sementara perusahaan mengklaim hak atas tanah tersebut.
Lewat aksi solidaritas ini, para peserta berharap tekanan publik bisa makin kuat, sehingga penyelesaian konflik bisa segera menemukan titik terang.
Di sisi lain, gerakan ini juga jadi pengingat kalau isu agraria bukan sekadar masalah lokal, tapi persoalan besar yang butuh perhatian bersama. (dul)


