Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dana Dipangkas 80 Persen, LPM Missi UIN Walisongo Tetap Berkarya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Dana Dipangkas 80 Persen, LPM Missi UIN Walisongo Tetap Berkarya

Di saat wacana merger organisasi mahasiswa di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang masih jadi bahan debat sana-sini, ada yang diam-diam sudah kena dampaknya duluan. Bukan soal teori organisasi, tapi realita paling dasar: duit makin tipis, karya ikut kepepet. Tapi ya namanya anak pers, kehabisan anggaran bukan alasan buat berhenti bersuara.

T. Budianto
Last updated: April 1, 2026 8:13 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
GEDUNG FDK: Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (FDK-UIN) Walisongo. (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Keputusan Dirjen Pendis Nomor 3814 Tahun 2024 tidak hanya memicu perdebatan konseptual di kalangan mahasiswa, tetapi juga menghadirkan dampak teknis yang langsung dirasakan oleh organisasi kemahasiswaan di kampus.

Salah satu yang merasakan dampak tersebut adalah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Missi Walisongo. Wacana penyesuaian struktur organisasi, termasuk kemungkinan merger atau penyederhanaan ormawa, membuat mereka harus beradaptasi, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya.

Ketua Umum LPM Missi Walisongo, Hanifah Shabrina mengakui bahwa perubahan paling terasa ada pada sektor anggaran. Ia menyebut pemangkasan dana terjadi cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan, memang ada perbedaan. Pemangkasannya lumayan, sekitar 80 persen. Dari dana DIPA yang awalnya sekitar Rp25 juta, tahun kemarin hanya tersisa sekitar Rp5 jutaan,” ujarnya saat diwawancarai via WhatsApp, Selasa (31/03/2026).

Kondisi tersebut tentu berdampak pada ruang gerak organisasi, terutama dalam menjalankan program kerja yang membutuhkan biaya operasional. Meski demikian, LPM Missi yang bernaung di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini tetap berupaya menjaga ritme kerja mereka agar tidak terhenti.

Baca juga: 6 Mahasiswa Hanyut di Kendal, UIN Walisongo Janji Evaluasi KKN

Dari sisi kaderisasi, Hanifah menjelaskan bahwa pola perekrutan tidak mengalami perubahan signifikan. Sistem yang digunakan masih mengacu pada mekanisme internal organisasi yang telah berjalan selama ini.

“Untuk pola kaderisasi tetap sama, dijalankan sesuai prosedur dari Missi sendiri. Alhamdulillah, masih cukup stabil, ada sekitar 25 anggota baru yang bergabung,” jelasnya.

Meski jumlah pendaftar tergolong masih stabil, tantangan lain muncul dalam hal distribusi sumber daya manusia di lapangan. Ia mengakui, dalam praktiknya, tidak semua anggota bisa selalu aktif turun melakukan liputan.

Terkendala SDM

“Kalau ada liputan tetap kami jalankan, baik di dalam kampus maupun luar. Tapi memang kadang terkendala SDM, karena teman-teman juga punya kesibukan lain seperti kuliah atau kegiatan lainnya,” tambahnya.

Dalam hal produktivitas, LPM Missi masih berusaha mempertahankan eksistensinya sebagai media kampus. Namun, keterbatasan anggaran mulai berdampak pada jenis dan jumlah karya yang diproduksi.

Untuk tahun 2025, mereka masih dalam proses penerbitan Majalah Missi edisi ke-46. Namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat penurunan output. “Tahun 2024 kita masih bisa terbit buletin dan majalah. Tapi untuk sekarang, memang lebih terbatas,” ungkap Hanifah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan penataan ormawa tidak hanya berdampak pada struktur organisasi, tetapi juga berimbas langsung pada keberlanjutan produksi karya mahasiswa.

Baca juga: Nyala Lilin, Doa Bersama dan Salat Gaib untuk Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, LPM Missi memilih untuk tetap berjalan. Di tengah perubahan kebijakan, mereka berupaya mempertahankan fungsi dasar sebagai ruang belajar, berkarya, dan menyuarakan realitas kampus.

Alih-alih terjebak dalam perdebatan setuju atau tidak terhadap wacana merger, mereka kini lebih fokus pada bagaimana tetap hidup dan relevan di tengah keterbatasan yang ada.

Ketika anggaran makin tipis tapi tuntutan tetap tebal, mungkin ini saatnya membuktikan, yang bikin pers mahasiswa hidup itu bukan hanya dana besar, tapi kepala yang tetap jalan dan suara yang nggak mau dikecilkan. (dul)

You Might Also Like

72.460 Siswa Miskin di Jateng Bisa Bersekolah Gratis Melalui Skema Ini

Abhirama Ranggawarsita 2026: Saat Pangan Bercerita Lewat Linimasa

Jelang May Day, Buruh Jateng Angkat Suara: Upah Belum Layak, Outsourcing Makin Ngeri

PSIS Masuk Fase Krusial: Tiga Laga Tandang, Satu Kandang

Gara-Gara Pisang “Fermentasi”, SPPG Lempongsari Disetop

TAGGED:headlinelpm fdk missilpm uin walisongo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Susu Gratis Malah Nongol di Rak Minimarket, Kok Bisa?
Next Article Andrie Yunus bersama Koalisi Masyarakat Sipil menerobos rapat pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI di Hotel Fairmont Jakarta, pada Sabtu (15/3/2025) silam. Kasus Air Keras Diserahkan TNI, Publik Jadi Makin Bingung

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

TBRS Hidup Lagi! Sepekan Bulan Bung Karno Disulap Jadi Panggung Seni, Literasi, dan Aksi Sosial

Semarang Punya Banyak Seniman Hebat, Jangan Sampai Namanya Tinggal Cerita

PERTUNJUKAN TEATER--Kelompok Teater Lingkar sedang tampil di acara Peringatan Bulan Bung Karno, di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Selasa (30/6/2026). (bae)

Bulan Bung Karno Diperingati Lewat Musik, Teater, dan Puisi di TBRS Semarang

TANAM PADI - Petani di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang masih menanam padi, meski kemarau sudah mulai datang, Minggu (29/6/2026). (dul)

Petani Jabungan ‘Nekat’ Tanam Padi saat Kemarau Mulai Datang, Gak Takut Kekeringan?

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Pidana Uang Pengganti Rp809 Miliar Mustahil Dibayarkan, Hukuman Nadiem Jadi 15 Tahun Penjara

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Sejumlah “calon haji cilik” dari TK Roudlotul Abidin Blanten, Nyatnyono, Ungaran Barat yang sedang menjalani manasik haji di Fatimah Zahra Semarang.
Pendidikan

Gemes Maksimal! Puluhan ‘Calon Haji Cilik’ Ini Bikin Suasana Manasik Jadi Super Seru

Februari 12, 2026
Momen Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato perdananya di forum internasional Sidang Umum PBB, Selasa (23/9/2025). foto: dok.
Nasional

Prabowo di PBB: Indonesia Siap Jadi “Player” Global

September 24, 2025
Pendidikan

224 Ribu Calon Siswa Lolos SPMB Jateng 2025

Juni 25, 2025
Info

Polda Gelar Mudik Gratis Khusus Pemotor

Februari 28, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dana Dipangkas 80 Persen, LPM Missi UIN Walisongo Tetap Berkarya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?