BACAAJA, SEMARANG – Masalah sampah di Jawa Tengah masih numpuk. Setiap tahun, jumlahnya tembus hampir 6,4 juta ton. Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mengakui dari jumlah itu, yang berhasil diolah baru sekitar 30 persen.
“Sekitar 70 persen sampah kita masih belum maksimal dikelola. Ini yang sedang kita kejar,” ucap Luthfi, Sabtu (28/3/2026).
Kondisi ini jadi PR besar yang lagi dikebut Pemprov Jateng. Soalnya, target nasional minta persoalan sampah bisa tuntas dalam beberapa tahun ke depan.
Bacaaja: Jateng Mau Sulap 70 Persen Sampah Jadi Listrik, Mimpi atau Jalan Keluar?
Bacaaja: Pemilah Sampah Jadi Tamu Spesial Bupati Temanggung Jelang Lebaran, Kisah Pengabdian Mbah Surat
Targetnya sesuai RPJMN, pada 2029 harus zero sampah. Provinsi Jawa Tengah telah membentuk Satgas Sampah untuk menjabarkan perintah Presiden Prabowo Subianto.
Satgas Sampah sudah dibentuk buat ngegas penanganan di lapangan. Strateginya juga beda-beda, tergantung banyaknya sampah di tiap daerah.
Kalau produksi sampahnya di atas 1.000 ton per hari, bakal pakai pendekatan regional. Sementara yang lebih kecil diarahkan ke pengolahan berbasis RDF.
“Yang tidak sampai seribu ton, kita dorong RDF. Sudah ada tiga kabupaten kerja sama dengan semen, yaitu Banyumas, Cilacap, dan Magelang. Enam kabupaten lain juga menyusul,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemprov Jateng juga mulai gandeng daerah lain buat solusi jangka panjang. Salah satunya lewat kerja sama dengan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.
Sampah di dua wilayah itu rencananya bakal diolah jadi energi listrik. Proyek ini digadang-gadang jadi bagian penting buat ngeberesin masalah sampah yang makin menggunung.
Meski begitu, prosesnya gak instan. Pembangunan fasilitas pengolahan sampah jadi listrik butuh waktu sekitar tiga tahun. Selama nunggu, pengurangan dan pengolahan sampah tetap harus jalan. (bae)


