BACAAJA, SEMARANG- PSIS Semarang bakal menjalani laga yang rasanya lebih tegang dari final. Menjamu Persipal Palu di Stadion Jatidiri, Minggu (29/3/2026), Mahesa Jenar dituntut menang, tanpa banyak alasan.
Posisi klasemen gak lagi ramah. PSIS nangkring di peringkat 9 Grup B, sementara Persipal nempel di bawahnya. Selisih tipis ini bikin duel nanti lebih mirip “perang zona merah” daripada sekadar pertandingan biasa. Kalau sampai terpeleset? Ancaman playoff degradasi ke Liga 3 makin nyata.
Baca juga: Jelang Kontra Persipal, PSIS Gelar Latihan di Boyolali
Pelatih Andri Ramawi bilang timnya datang dengan kondisi cukup oke. Fisik aman, persiapan juga disebut maksimal setelah sepekan latihan intens. “Semua pemain siap, baik secara fisik maupun mental. Targetnya jelas: poin penuh di kandang,” tegasnya saat konfrensi pers sebelum laga, Sabtu, (28/3/2026).
Tapi dia juga langsung pasang rem: jangan sampai overconfidence. Soalnya, tim seperti Persipal justru sering jadi “jebakan batman”. Sorotan memang sempat mengarah ke Kenzo Nambu, tapi Andri menegaskan bahaya Persipal bukan di satu nama, melainkan kolektivitas timnya. “Mereka solid, gak bisa dianggap enteng,” tambahnya.
PSIS dipastikan tampil tanpa Ibrahim Sanjaya yang kena kartu merah. Posisi bek sayap kemungkinan diisi Gustur Cahyo. Di lini depan, ada potensi kejutan. Nama Thaufan Hidayat disebut-sebut bakal starter, menggeser striker asing Rafinha.
Pertarungan Mental
Sementara di belakang, duet Dani Ibrohim dan Otavio Dutra diprediksi kembali dipercaya. Di atas kertas, PSIS sedikit diuntungkan. Persipal kehilangan beberapa pemain penting, termasuk eks PSIS yang absen karena akumulasi kartu.
Tapi sekali lagi, posisi klasemen bilang semuanya masih 50:50. Laga ini juga bukan cuma soal taktik, tapi soal mental. Dukungan suporter seperti Panser Biru dan Snex diharapkan jadi “pemain ke-12” di tribun Jatidiri.
Baca juga: Libur Udah, PSIS Gaspol Lagi, Persipal Siap Jadi Ujian Awal
Masalahnya, ini baru awal. Setelah Persipal, PSIS masih harus menghadapi lawan-lawan berat seperti Persiku Kudus, Tornado FC Kendal, hingga tim besar lain. Artinya, kalau di kandang sendiri saja gagal menang, jalan ke depan bakal makin terjal.
Kadang sepak bola itu sederhana: kalau gak mau turun kasta, ya harus menang. Tapi di kondisi seperti sekarang, menang pun terasa seperti minta izin ke nasib, padahal yang dibutuhkan sebenarnya cuma satu: jangan buang peluang sendiri. (tebe)

