BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang lagi ngerancang langkah besar buat memasifkan penggunaan bus listrik lewat layanan BLU Trans Semarang. Tujuannya jelas: ngurangin emisi dan bikin transportasi publik makin ramah lingkungan.
Tapi masalahnya nggak sesimpel ganti mesin doang. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bilang, kondisi geografis Semarang yang punya wilayah atas dan bawah bikin uji coba harus ekstra hati-hati. Nggak bisa langsung asal jalan.
Saat ini, uji coba masih fokus di jalur yang relatif aman, alias datar. Koridor 1 rute Mangkang sampai Penggaron jadi “lintasan percobaan” karena medannya masih bersahabat.
Baca juga: Bus Listrik Masuk Kota! Gratisan Dulu, Hijau Kemudian
“Semarang itu kan ada lembah dan bukit, jadi kita mulai dari yang flat dulu. Tapi memang targetnya jelas, kita pengin mengurangi emisi lewat bus listrik,” kira-kira begitu poin yang disampaikan Agustina.
Masalah berikutnya muncul dari sisi desain bus. Bus listrik yang ramah disabilitas idealnya pakai model low deck (lantai rendah). Nah, ini bentrok sama kondisi Semarang bawah yang sering banget kebanjiran.
Di satu sisi, warga pengin bus yang agak tinggi (high deck) biar aman kalau nerobos genangan. Tapi di sisi lain, itu jadi kurang ramah buat penyandang disabilitas. Dilema banget.
Jalan Tengah
Pemkot akhirnya ambil jalan tengah: beresin dulu akar masalahnya, yaitu banjir. Revitalisasi saluran air bakal digenjot, terutama di titik-titik rawan seperti Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Jalan Ahmad Yani, sampai Jalan Ahmad Dahlan. Area ini dikenal jadi langganan genangan yang bikin aktivitas kota tersendat.
Baca juga: Dari “Cumi-Cumi Darat” ke Bus Listrik: Semarang Mulai Move On dari Asap Hitam
Rencana besarnya, kalau sistem drainase sudah dibenahi dan banjir bisa dikendalikan, maka bus listrik bisa jalan lebih lancar tanpa harus kompromi soal desain ramah penyandang disabilitas.
Meski begitu, Agustina juga minta masyarakat siap-siap terganggu sementara. Soalnya perbaikan saluran kadang harus bongkar area yang bahkan sudah berdiri bangunan permanen.
Jadi intinya, Semarang lagi pengin naik level jadi kota ramah lingkungan, tapi masih harus beresin “drama klasik” dulu: banjir. Karena percuma punya bus listrik canggih, kalau tiap hujan malah berubah jadi “kapal selam darat”. (tebe)


