BACAAJA – Kabar kurang enak buat lo yang lagi nunggu harga gadget turun. Krisis chip memori global ternyata belum bakal selesai dalam waktu dekat, bahkan diprediksi bisa berlanjut sampai 2030.
Hal ini diungkap Chairman SK Group, Chey Tae-won, dalam konferensi Nvidia GTC di San Jose. Ia menyebut pasokan wafer industri saat ini masih tertinggal lebih dari 20 persen dibanding kebutuhan pasar.
Artinya simpel: yang butuh banyak, barangnya masih kurang.
Bacaaja: Infinix Note 60: HP Murah Gak Bikin Kamu Tersesat, Bisa Nyambung Satelit Anti-Lost Contact!
Bacaaja: iPhone 17 Pro & Pro Max Resmi Meluncur: Desain Baru, Kamera 48MP, dan Storage Super Jumbo 2TB
Padahal, wafer ini adalah “bahan dasar” penting dalam pembuatan chip semikonduktor, termasuk memori seperti DRAM dan NAND yang dipakai di hampir semua perangkat, mulai dari HP sampai laptop.
Masalahnya, untuk nambah produksi wafer itu nggak bisa instan. Prosesnya panjang, jadi ketimpangan supply dan demand masih bakal kerasa beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, tren kecerdasan buatan alias AI ikut bikin situasi makin kompleks. Perusahaan besar seperti SK Hynix, Samsung Electronics, dan Micron Technology sekarang lebih fokus memproduksi HBM (high bandwidth memory) buat kebutuhan AI.
Imbasnya? Produksi memori standar seperti DRAM jadi berkurang. Dan efek dominonya mulai terasa: harga komponen naik, harga gadget ikut terdorong naik juga.
Chey bahkan mengingatkan, kalau fokus ke HBM ini kebablasan, bisa terjadi kelangkaan DRAM yang justru dipakai di perangkat sehari-hari.
Sementara itu, firma riset Gartner memproyeksikan harga gabungan DRAM dan SSD bisa melonjak sampai 130 persen pada akhir 2026. Dampaknya nggak main-main, harga PC diperkirakan ikut naik sekitar 17 persen.
Bukan cuma soal harga, kebiasaan pengguna juga bakal berubah. Orang diprediksi bakal lebih lama pakai perangkatnya, karena upgrade jadi makin mahal. Di saat yang sama, pengiriman global PC dan smartphone justru diperkirakan turun.
Meski industri sedang berlomba membangun fasilitas baru, dari Korea Selatan sampai Jepang, fokus investasi saat ini tetap condong ke lini memori untuk AI yang lebih cuan. Jadi, untuk kebutuhan gadget sehari-hari, efek krisis ini masih bakal terasa.
Singkatnya, kalau lo lagi mikir “nanti aja beli, nunggu murah,” bisa jadi malah zonk. Karena dalam waktu dekat, harga gadget belum tentu turun—justru ada kemungkinan makin naik. (*)


