BACAAJA, SEMARANG- Suasana jelang Lebaran 2026 dimanfaatkan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, buat sowan ke dua ulama kharismatik: KH Munif Muhammad Zuhri di Ponpes Girikusumo, Mranggen, dan KH Fathurrohman Thohir di Ponpes Al-Ittihad Poncol, Bringin, Kabupaten Semarang, Jumat (20/3/2026).
Datang nggak sekadar silaturahmi, Luthfi justru “dikasih PR” langsung: jangan pernah lepas fokus ke kesejahteraan rakyat. Di kediaman Mbah Munif, obrolan berlangsung cukup lama.
Nggak cuma nostalgia, tapi juga “review janji lama”. Dua tahun lalu, Mbah Munif sempat pesan: pemimpin itu harus murah senyum dan serius ngangkat kesejahteraan masyarakat. Dan ternyata, pesan itu masih dipegang.
Baca juga: Luthfi Sidak Pasar Bunder Sragen: Harga Cabai Nggak “Pedas” Lagi di Kantong
Luthfi pun cerita soal kerja barengnya dengan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Mulai dari program Speling (dokter spesialis keliling) yang menyasar desa-desa, sampai gerakan pengentasan kemiskinan yang digarap bareng lintas sektor.
“Masalah kemiskinan itu kami cari akarnya, lalu kita intervensi bareng-bareng. Nggak sporadis, tapi pakai roadmap biar semua daerah geraknya searah,” kira-kira begitu yang disampaikan Luthfi.
Nggak cuma itu, ada juga program “Santri Obah” yang jadi ruang gerak baru buat santri dan pesantren biar makin berdaya.
Kacamata Hitam
Tapi momen paling nyeleneh sekaligus berkesan? Saat Mbah Munif tiba-tiba ngasih kacamata hitam dan langsung dipakaikan ke Luthfi. Simbolis? Banget.
Apalagi ini bukan hadiah pertama. Sebelumnya, Luthfi juga pernah dikasih tongkat berukir. Seolah ada pesan tersirat: jalan boleh jauh, tapi arah jangan sampai kabur.
Selain wejangan, Mbah Munif juga nitip masalah konkret: akses jalan Mranggen-Ungaran yang putus karena longsor. Jalur alternatif itu penting banget buat warga, dan diminta segera dituntaskan.
Sementara itu, di Ponpes Al-Ittihad, suasana nggak kalah hangat. KH Fathurrohman Thohir sempat nyeletuk soal harga bahan pokok yang naik jelang Lebaran.
Baca juga: Gandeng PWNU, Pemprov Jateng Akselerasi Pembangunan Umat
Luthfi nggak mengelak. Ia mengakui ada kenaikan, terutama cabai. Penyebabnya? Siklus tanam di musim hujan dan kebiasaan masyarakat yang belum adaptif dengan cabai kering.
“Memang ada kenaikan, tapi alhamdulillah nggak ada penimbunan. Kita juga sudah intervensi biar harga cabai bisa turun,” jelasnya.
Dari tongkat sampai kacamata, kayaknya pesan para kiai ke pemimpin itu simpel: jalan boleh pakai tongkat, tapi lihat rakyat harus tetap jelas. Soalnya kalau penglihatan mulai buram, yang kena bukan cuma harga cabai, tapi juga kepercayaan. (tebe)


