BACAAJA, SEMARANG– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menyiapkan berbagai langkah untuk mengembangkan wisata ramah muslim dan wisata halal di wilayahnya. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan ekosistem industri halal, mulai dari kewajiban sertifikasi halal untuk berbagai produk hingga pengembangan wirausaha berbasis pesantren.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mengatakan, pengembangan wisata halal sudah masuk dalam peta jalan pembangunan daerah beberapa tahun ke depan. “Road map kita di Jawa Tengah, 2025 fokus infrastruktur, 2026 swasembada pangan, dan 2027 pariwisata serta ekonomi syariah. Tidak usah menunggu, sekarang dimulai,” kata Luthfi saat menghadiri pelantikan pengurus HIPMI Syariah Jawa Tengah masa bakti 2026-2029 di Wisma Perdamaian, Semarang, Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Jateng Bidik Wisatawan Timur Tengah
Menurutnya, Jawa Tengah punya peluang besar untuk masuk ke pasar wisata ramah muslim tingkat internasional. Apalagi, banyak negara dengan kultur serumpun yang potensinya belum tergarap maksimal. “Kita punya wisata ramah muslim, wisata halal. Jangan hanya mikro dan kecil, tapi juga menengah. Ada banyak negara serumpun yang belum tergarap,” ujarnya.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah juga menjalankan berbagai program penguatan industri halal, di antaranya: sertifikasi halal untuk makanan, minuman, bahan baku, kosmetik, dan produk gunaan.
Kemudian ada program santripreneur yang mendorong wirausaha dari kalangan santri serta fasilitasi sertifikasi halal bagi Industri Kecil Menengah (IKM). Selain itu masih ada program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) untuk UMKM yang berlangsung hingga 17 Oktober 2026.
Pemprov Jateng juga menggandeng berbagai pihak untuk mempercepat pengembangan ekosistem ekonomi syariah, salah satunya melalui kolaborasi dengan HIPMI Syariah Jateng.
Perkuat Investasi
Ketua HIPMI Syariah Jateng, Muhammad Sabiq Kamalul Haq mengatakan, organisasinya siap mendukung program pemerintah, khususnya dalam memperkuat investasi dan sertifikasi halal bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
“Ke depan kami akan membantu pemerintah menuju program wisata halal dan wisata ramah muslim 2027, termasuk dari sisi investasi maupun sertifikasi halal bagi UMKM,” ujarnya. Saat ini HIPMI Syariah Jawa Tengah memiliki sekitar 50 pengurus dan 500 anggota yang tersebar di berbagai daerah. Organisasi tersebut juga menaungi sekitar 350 UMKM.
Selain itu, mereka juga siap membantu pesantren yang ingin mengembangkan unit usaha melalui akses permodalan koperasi syariah. Sabiq menambahkan, HIPMI Syariah juga mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis kepedulian sosial atau social entrepreneur.
Baca juga: Pemprov Jateng Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
“Menjadi pengusaha tidak hanya mencari uang, tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial. Social entrepreneur justru menjadi program utama kami,” katanya. Dengan potensi wisata alam, budaya, hingga kuliner yang sudah terkenal, Jawa Tengah sebenarnya tinggal menambahkan satu hal: ekosistem halal yang kuat.
Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin nanti wisatawan datang ke Jateng bukan cuma cari pemandangan atau kuliner enak, tapi juga karena merasa liburannya lebih nyaman, halal, dan ramah untuk semua. (tebe)


