BACAAJA, SOLO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Solo lagi jadi sorotan. Bukan karena porsinya nambah, tapi karena banyak aduan soal menu yang dinilai kurang layak.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, langsung angkat suara. Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk turun tangan alias intervensi menu MBG selama bulan Ramadan.
Menurut Respati, laporan datang dari masyarakat sampai pihak sekolah. Intinya sama: kualitas menu perlu dibenahi.
Bacaaja: Sajikan Menu MBG Berulat dan Berjamur, SPPG Giyanti Temanggung Cuma Disanksi Libur Sepekan
Bacaaja: Soal MBG, DPD: Jangan Cuma Dengar Laporan Manis di Atas Kertas
“Sudah kami catat beberapa SPPG yang bermasalah. Siang ini ada rakor MBG di Semarang, semua kabupaten/kota dikumpulkan. Saatnya saya sampaikan masukan,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Respati mengakui, memang ada beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Solo yang menyajikan menu tidak sesuai standar.
SPPG yang bermasalah itu bakal dilaporkan ke tingkat provinsi untuk dievaluasi. Targetnya jelas: pelaksanaan MBG di Kota Bengawan harus tetap on track dan nggak bikin polemik.
Ia juga menegaskan, dapur MBG yang masih menyajikan menu kurang layak harus segera menyesuaikan.
Solo cuma butuh 81 SPPG
Selain soal menu, Respati juga menyoroti jumlah dapur SPPG di Solo. Berdasarkan kajian data penerima manfaat, menurutnya Kota Solo hanya butuh 81 SPPG.
Ia meminta BGN tidak membuka dapur lebih dari jumlah tersebut. Kenapa? Supaya nggak muncul konflik sosial dan pengawasan tetap optimal.
“Kalau pengawasan diserahkan ke Pemda tapi jumlahnya kebanyakan, ya nggak maksimal,” jelasnya.
Respati juga mengajak masyarakat untuk nggak diem kalau masih menemukan menu MBG yang dianggap tidak layak konsumsi.
Ia berharap Satgas MBG Kota Solo makin aktif melakukan pengawasan, apalagi di bulan Ramadan, supaya program yang niatnya baik ini nggak malah menimbulkan dampak buruk bagi penerima manfaat.
Intinya: programnya jalan, tapi kualitas harus dijaga. Karena makan bergizi gratis harusnya bikin sehat, bukan bikin rame timeline. (*)


