BACAAJA, SEMARANG – Program bantuan wifi gratis untuk setiap RT di Semarang yang sempat disambut antusias warga, belakangan ini justru menuai tanda tanya.
Sejumlah titik wifi yang sebelumnya aktif kini tidak lagi bisa digunakan. Beberapa warga mengaku koneksi tersebut sudah mati sejak beberapa waktu terakhir.
Siswadi (46), warga asal Purwodadi yang kini menetap di kawasan Karonsih, Semarang, mengatakan bahwa di wilayahnya hanya sebagian kecil wifi yang masih menyala.
Bacaaja: Publik Bicara Setahun Agustina-Iswar: Jalan Bolong-bolong, Masih Langganan Banjir
Bacaaja: Satu Tahun Agustina-Iswar: Titik Lama Belum Beres, Banjir Muncul di Area Baru
“Iya mas, wifinya dimatikan. Di kelurahan sini cuma ada beberapa wifi yang diaktifkan, yang lain dimatikan,” ujarnya saat ditemui, Jum’at (27/02/2026)
Menurutnya, keberadaan wifi gratis itu sebelumnya cukup membantu warga, terutama untuk anak-anak sekolah yang membutuhkan akses internet untuk belajar, maupun warga yang menjalankan usaha kecil dari rumah. Saat wifi tidak lagi aktif, mau tidak mau warga kembali mengandalkan paket data pribadi.
Hal senada juga disampaikan Afif (59), salah satu warga Semarang lainnya. Ia menyoroti bukan hanya soal wifi RT yang tak lagi bisa digunakan, tetapi juga soal bantuan tahunan untuk RT yang dinilai pencairannya kerap terlambat.
“Di satu tahun kepemimpinan Agustina ini saya cuma mau tanya, kenapa bantuan RT per tahun turunnya lama? Dan kenapa harus dialihkan hanya untuk konsumsi, bukan yang lain? Terus wifi untuk setiap RT juga sekarang nggak bisa digunakan lagi,” katanya.
Keluhan tersebut mencerminkan kegelisahan sebagian warga yang berharap program bantuan benar-benar berjalan konsisten dan tepat sasaran. Bagi sebagian masyarakat, wifi gratis bukan sekadar fasilitas tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan penunjang aktivitas sehari-hari.
Beberapa warga menyebut, ketika program ini pertama kali berjalan, dampaknya terasa cukup signifikan. Anak-anak bisa mengerjakan tugas sekolah tanpa harus pergi ke warnet atau meminjam hotspot tetangga.
Bahkan, ada pelaku UMKM rumahan yang memanfaatkan akses internet tersebut untuk promosi dan berjualan secara daring.
Namun kini, ketika banyak titik wifi tidak lagi aktif, warga merasa seperti kehilangan fasilitas yang sempat dijanjikan untuk mendukung kebutuhan digital di tingkat lingkungan paling bawah, yakni RT.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi terkait alasan penonaktifan sebagian wifi tersebut, apakah karena kendala anggaran, evaluasi program, atau faktor teknis lainnya.
Warga pun berharap ada penjelasan terbuka dari pemerintah kota agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Bagi mereka, yang terpenting bukan sekadar ada atau tidaknya program, tetapi kejelasan dan konsistensi pelaksanaannya.
Sebab di era serba digital seperti sekarang, akses internet bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan dasar yang menyentuh pendidikan, ekonomi, hingga komunikasi sehari-hari. (dul)


