BACAAJA, UNGARAN – Warga Desa Duren, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, harus bangun dengan kabar nggak enak, Senin (23/2/2026) dini hari. Jembatan penghubung ke Desa Pledokan ambrol sekitar pukul 01.00 WIB.
Akibatnya? Akses kendaraan roda empat langsung putus total.
Kepala Desa Duren, Eko Sudarmo, bilang jembatan itu adalah satu-satunya jalur penghubung antar-desa. Jadi ketika ambruk, mobil otomatis nggak bisa lewat.
Bacaaja: Talud Rowosari Jebol, Warga Auto Cemas: Tolong Pasang Bronjong, Jangan Nunggu Banjir!
Bacaaja: Kiki Tewas Tertimbun, Lagi-lagi Tanah Longsor di Pemalang Telan Korban Jiwa
“Dengan kondisi jembatan yang ambrol, maka tidak bisa dilewati mobil. Terisolasi karena keadaan,” ujarnya.
Begitu dapat laporan dari warga, Eko langsung menuju lokasi. Panjang jembatan yang ambrol sekitar 10 meter, lebarnya 4 meter, dan tingginya kurang lebih 5 meter dari permukaan air.
Diduga, hujan deras yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut bikin pondasi terkikis. Tanah di wilayah itu memang dikenal labil, jadi ketika debit air naik dan arus menguat, konstruksi jembatan nggak mampu bertahan.
Bikin jembatan darurat dulu, biar warga gak terisolasi
Pemerintah desa nggak tinggal diam. Mereka langsung koordinasi dengan BPBD Kabupaten Semarang serta TNI-Polri buat penanganan cepat.
Untuk sementara, dibangun jembatan darurat dari bambu dan papan kayu. Targetnya minimal sepeda motor dan pejalan kaki tetap bisa melintas.
“Setidaknya sepeda motor dan pejalan kaki bisa melintas terlebih dulu,” kata Eko.
Langkah ini penting banget, karena jembatan itu jadi akses vital bagi sekitar 800 warga Desa Duren menuju pusat pemerintahan Kecamatan Sumowono.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menegaskan tanpa jembatan, aktivitas ratusan warga bisa lumpuh.
“Kalau tidak ada jembatan, aktivitas 800 jiwa warga terhambat, mereka bisa terisolasi,” ujarnya.
Yang bikin makin deg-degan, kejadian ini terjadi menjelang Lebaran. Mobilitas warga biasanya meningkat, entah untuk belanja kebutuhan, silaturahmi, atau aktivitas lainnya.
Eko berharap perbaikan permanen bisa segera dilakukan supaya warga nggak terlalu lama kesulitan.
“Kalau harapan tentu semoga diperbaiki segera agar warga tidak kesulitan, apalagi ini mau Lebaran,” katanya.
Untuk sekarang, warga masih harus ekstra hati-hati saat melintas di jembatan darurat. Sambil menunggu perbaikan permanen, yang penting akses dasar tetap nyambung dan desa nggak benar-benar terputus. (*)


