BACAAJA, SRAGEN – Warga dibuat geram sekaligus miris setelah video kekerasan terhadap balita di Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, beredar luas di media sosial. Bukan orang lain, pelakunya ternyata ayah kandung korban sendiri.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Kamis, 19 Februari 2026. Dalam hitungan jam, potongan video berdurasi sekitar 13 detik langsung viral dan memicu kemarahan publik.
Di dalam rekaman singkat itu, terlihat seorang pria melakukan kekerasan fisik terhadap balita perempuan yang terus menangis kesakitan. Suasana dalam video terasa mencekam, apalagi mengetahui pelaku adalah orang terdekat korban.
Pria tersebut berinisial P (47), warga Gesi. Yang bikin publik makin geleng kepala, aksi kekerasan itu direkam sendiri oleh pelaku saat kejadian berlangsung.
Setelah video menyebar, P sempat kabur. Polisi bergerak cepat melakukan pelacakan berdasarkan identitas yang sudah dikantongi.
Pada Sabtu, 21 Februari 2026, pelaku akhirnya berhasil diringkus di wilayah Boyolali. Penangkapan ini dilakukan setelah polisi memastikan keberadaan P.
Kapolres Sragen, Dewiana Syamsu Indyasari, membenarkan penangkapan tersebut. “Terduga pelaku berinisial P (47), warga Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, berhasil diamankan setelah sempat melarikan diri,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia juga menegaskan bahwa hasil penyelidikan awal menunjukkan pelaku adalah ayah kandung korban. Fakta ini membuat kasus tersebut terasa makin menyayat hati.
Polisi kini fokus mendalami motif di balik aksi kekerasan tersebut. Pemeriksaan terhadap pelaku terus dilakukan untuk mengungkap kronologi lengkap kejadian.
Sementara itu, kondisi korban menjadi perhatian utama. Aparat memastikan balita tersebut akan mendapatkan pemeriksaan medis secara menyeluruh.
Korban rencananya dibawa ke RSUD Dr Moewardi di Solo untuk memastikan kondisi fisik dan psikisnya. Langkah ini diambil agar dampak luka bisa ditangani secepat mungkin.
Dewiana menegaskan penanganan perkara ini dilakukan secara profesional dan transparan sesuai aturan hukum yang berlaku. Proses hukum akan berjalan tanpa pandang bulu.
Menurut polisi, fakta bahwa video direkam sendiri oleh pelaku menjadi salah satu bukti penting dalam penyelidikan. Rekaman itu kini diamankan sebagai barang bukti.
Kasus ini pun memantik diskusi luas soal perlindungan anak di lingkungan keluarga. Banyak pihak menilai, kekerasan justru sering terjadi di ruang yang seharusnya paling aman bagi anak.
Media sosial dipenuhi kecaman terhadap pelaku. Warganet juga mendesak agar hukuman setimpal dijatuhkan demi memberi efek jera.
Di sisi lain, aparat mengingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan ulang video kekerasan tersebut demi melindungi identitas dan psikologis korban.
Penanganan hukum terhadap P kini memasuki tahap pemeriksaan intensif. Polisi memastikan akan menjerat pelaku dengan pasal terkait perlindungan anak.
Kasus ini jadi alarm keras bahwa pengawasan dan edukasi soal pola asuh sangat penting. Kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak pernah bisa dibenarkan.
Publik kini menunggu proses hukum selanjutnya. Harapannya satu: keadilan untuk korban, dan perlindungan yang lebih kuat bagi anak-anak agar tragedi serupa tak terulang lagi.(*)


