BACAAJA, UNGARAN- Upaya menjaga lingkungan kembali digaungkan lewat kegiatan bertajuk Voice of Nature. Rotary Club of Semarang bareng Musisi Rumanfaat turun langsung ke lereng Kabupaten Semarang untuk aksi tanam pohon, sebagai respons atas makin seringnya kerusakan lingkungan dan bencana alam.
Penanaman dilakukan di empat titik lokasi, mulai dari sepanjang akses menuju Dusun Indrakilo, Desa Lerep, hingga kawasan hutan dengan kondisi tanah rusak dan rawan longsor. Ratusan bibit ditanam, mulai dari alpukat, matoa, mangga, jambu biji, pete, jengkol, sampai beringin, tabebuya, dan trembesi.
Baca juga: Mangrove Ditanam Bareng, Bengawan Donan Dijaga dari Abrasi
Pohon-pohon ini bukan dipilih asal hijau. Fungsinya jelas: mengikat tanah, menjaga air, sekaligus jadi “tabungan hidup” buat ekosistem sekitar.
Acara dibuka secara seremonial oleh Rotary Club of Semarang. Setelah itu, nggak ada sesi nonton doang. Semua peserta turun ke lapangan, pegang cangkul, kotor-kotoran bareng. Gotong royong jadi kata kunci, bukan sekadar tanam simbolik buat foto.
Sentuhan Seni
Yang bikin Voice of Nature beda dari aksi tanam pohon kebanyakan adalah sentuhan seninya. Setelah menanam, suasana dilanjutkan dengan ramah tamah yang hangat. Ibu-ibu desa membuka dengan tarian lesung, lalu disusul pembacaan puisi beriringan saxophone dan nyanyian bersama Musisi Rumanfaat.
Pesannya satu: alam nggak cuma butuh dijaga, tapi juga “didengar”. Musik dan sastra dipakai sebagai jembatan emosi, supaya isu lingkungan nggak cuma berhenti di data dan jargon.
Kegiatan ini juga lahir dari keresahan bersama. Sejak akhir 2025 hingga Januari 2026, bencana alam seperti banjir, longsor, dan kerusakan lahan makin sering terjadi. Alam seperti ngasih tanda, tapi sering kita cuekin.
Baca juga: Kenapa Lereng Slamet Gampang Banjir dan Longsor?
Lewat kegiatan ini, para penggagas berharap kawasan hutan lokal, khususnya di Kabupaten Semarang, bisa perlahan pulih. Lebih dari itu, mereka ingin menanam satu hal yang lebih penting: kesadaran kolektif bahwa urusan lingkungan bukan cuma tugas pemerintah atau aktivis, tapi tanggung jawab bareng.
Lewat Voice of Nature, alam sudah bicara. Tinggal manusianya mau dengar atau tetap pura-pura headset-an. Karena pohon bisa tumbuh lagi, tapi kalau kepedulian ikut gundul yang rawan longsor bukan cuma tanah. (tebe)


