BACAAJA, SEMARANG – Rentetan banjir dan longsor di Jawa Tengah disebut bukan sekadar faktor hujan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jateng menilai akar masalahnya ada pada tata kelola ruang yang gagal melindungi lingkungan.
Sorotan itu menguat setelah perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2019 ke 2024.
Bacaaja: Banjir Pati Rendam 59 Desa, Pemprov Belum Tetapkan Darurat Bencana
Bacaaja: Tiga Tewas dan Belasan Ribu Warga Terdampak Bencana Banjir-Longsor di Muria Raya
Menurut Walhi, arah pembangunan makin condong ke industri dan tambang, sementara kawasan lindung justru tergerus.
Kepala Divisi Internal Walhi Jateng, Nur Colis, menyebut klaim pemerintah soal bertambahnya kawasan resapan air tak sesuai kondisi lapangan.
Fakta yang terlihat, hutan lindung menyusut dan kawasan hulu makin tertekan.
“Banjir dan longsor yang berulang ini merupakan dampak dari kegagalan tata kelola ruang yang tidak berpihak pada perlindungan kawasan hulu dan fungsi ekologis wilayah,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Kata dia, bencana yang terus terjadi sejak 2023 hingga 2025 jadi bukti nyata. Termasuk di kawasan Muria Raya yang berulang kali terdampak banjir dan longsor.
Menurutnya, hujan hanya pemicu. Masalah besarnya ada pada kebijakan tata ruang yang membuka ruang luas bagi ekonomi ekstraktif di kawasan hulu dan daerah tangkapan air.
Walhi menilai model pembangunan semacam ini memperparah kerentanan bencana. Kerusakan di hulu akhirnya dibayar mahal oleh wilayah hilir.
Karena itu, WALHI mendesak pemerintah segera melakukan mitigasi darurat berbasis prediksi BMKG.
Curah hujan tinggi diperkirakan masih berlanjut hingga dasarian kedua Februari 2026.
Tak hanya itu, evaluasi menyeluruh terhadap RTRW dan perizinan juga diminta segera dilakukan.
Terutama izin proyek yang berpotensi merusak hutan, DAS, dan ekosistem penyangga banjir.
“Pemulihan fungsi ekologis kawasan hulu dan DAS harus dipercepat,” kata Nur Colis.
Penanganan bencana tak cukup dengan solusi teknis dan infrastruktur.
Selama tata ruang tak berpihak pada perlindungan lingkungan, banjir dan longsor di Jawa Tengah akan terus berulang. (bae)


