BACAAJA, JAKARTA – Pernah kepikiran kalau “malas gerak” bisa diukur? Ternyata bisa, dan ukurannya sederhana: seberapa sering orang berjalan kaki setiap hari. Riset dari Stanford University yang dimuat di jurnal Nature menyebut banyak negara masih jauh dari standar sehat WHO, yakni minimal 5.000 langkah per hari.
Dari data itu, terlihat jelas kalau budaya jalan kaki di banyak negara masih kalah sama kebiasaan naik kendaraan. Indonesia bahkan nongol di posisi paling buncit, dengan rata-rata cuma sekitar 3.513 langkah per hari, angka yang bikin dahi berkerut.
Minimnya trotoar layak, jalan kaki yang sering kalah sama motor dan mobil, plus kebiasaan “deket dikit gas” bikin langkah harian masyarakat Indonesia mandek. Peneliti WHO, Scott Delp, menyebut angka ini jauh di bawah rata-rata global yang seharusnya bisa tembus 5.000 langkah.
Tak jauh beda, Arab Saudi juga masuk jajaran bawah dengan rata-rata sekitar 3.800 langkah per hari. Cuaca panas ekstrem, aktivitas yang lebih banyak di dalam ruangan, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi bikin warganya jarang menjadikan jalan kaki sebagai pilihan.
Malaysia menyusul dengan kisaran 3.900 langkah per hari. Padatnya lalu lintas dan dominasi kendaraan bermotor membuat jalan kaki terasa ribet, meski jarak sebenarnya tak selalu jauh.
Filipina ada di posisi berikutnya dengan sekitar 4.000 langkah per hari. Kemacetan di kota besar seperti Manila, trotoar sempit, dan polusi bikin jalan kaki terasa bukan opsi ideal.
Afrika Selatan dan Brasil juga masuk daftar ini. Rata-rata langkah harian di dua negara tersebut berkisar 4.100 hingga 4.200 langkah. Faktor ekonomi, keamanan lingkungan, serta kesenjangan fasilitas antarwilayah ikut memengaruhi rendahnya aktivitas fisik.
India dan Mesir punya cerita mirip. Panas, polusi, dan lalu lintas padat membuat jalan kaki sering dianggap melelahkan. Akibatnya, rata-rata langkah harian mereka mentok di angka 4.200–4.300.
Meksiko dan Amerika Serikat sebenarnya sedikit lebih aktif dibanding negara lain di daftar ini, dengan langkah harian mendekati 4.700. Tapi tetap saja, angka itu masih belum menyentuh standar WHO.
Amerika Serikat, meski punya kota-kota ramah pejalan kaki, tetap terjebak gaya hidup serba duduk. Kerja depan layar, mobilisasi pakai mobil, dan minim aktivitas luar ruang bikin langkah kaki tetap kalah jauh.
Dari daftar ini, satu hal terasa jelas: jalan kaki bukan sekadar soal niat, tapi juga soal lingkungan dan kebiasaan. Kalau trotoar nyaman dan jarak dekat tak selalu dihadapi dengan gas motor, mungkin angka langkah harian kita bisa naik pelan-pelan. (*)

