BACAAJA, SEMARANG – Terorisme gaya baru punya wajah yang makin aneh. Anak-anak Indonesia yang jelas berkulit sawo matang justru tertarik ideologi white supremacy yang mengagungkan kulit putih.
Pengamat terorisme Najahan Musyafak menilai, persoalannya bukan soal fisik. Yang bermain justru ideologi dan nilai yang dibungkus dengan narasi keren.
“Dia sudah lupa siapa dirinya. Yang diusung itu ideologinya, bukan warna kulit. Nilai-nilai yang dikampanyekan bisa saja cocok dengan kondisi psikologis anak,” kata dosen UIN Walisongo itu.
Bacaaja: Pengamat Ungkap Alasan Anak Tergiur Neo-Nazi dan White Supremacy dan Cara Antisipasinya
Bacaaja: 22 Anak di Jateng Terpapar Konten Kekerasan, Densus 88 Endus Metode Tebar Jaring di Medsos
White supremacy, kata Najahan, pintar menjual janji. Ada rasa superior, kekuatan, dan kebanggaan semu saat anak merasa diakui sebagai bagian kelompok elit.
“Meski kulit coklat, ketika dia diakui jadi bagian kelompok kulit putih, muncul rasa bangga. Itu faktor psikologis, ada inferior complex,” ujarnya.
Bahasa yang dipakai juga sangat persuasif. Diksi halus, janji besar, dan narasi kejayaan bikin anak merasa istimewa.
“Mereka dijanjikan jadi bagian dari supremasi. Ini harus dibaca detail dari sisi bahasa dan cara komunikasinya,” kata Najahan.
Kondisi ini sejalan dengan temuan aparat. Densus 88 Antiteror Polri mencatat 68 anak di Indonesia terpapar ideologi ekstrem seperti white supremacy, meski mereka hidup jauh dari konteks ras kulit putih.
White supremacy sendiri adalah ideologi yang percaya ras kulit putih lebih unggul dan layak mendominasi ras lain. Di tangan anak-anak, ideologi ini berubah jadi pembenaran untuk bersikap agresif.
Najahan menyebut, ruang digital memperparah situasi. Media sosial dan komunitas daring memberi ruang tanpa batas untuk pengakuan dan aktualisasi diri.
“Di ruang digital itu, sekat negara, agama, dan identitas jadi kabur. Yang penting diakui dan diapresiasi,” ujarnya.
Menurutnya, pola ini mirip terorisme lama. Cara rekrutmen dan pendekatan psikologinya sama, hanya bungkus ideologinya yang berganti.
“Pattern-nya hampir sama. Yang berubah cuma ideologi yang dipakai,” tutup Najahan. (bae)


