Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ngeri Tapi Nyata, Puluhan Anak Masuk Grup “True Crime”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Ngeri Tapi Nyata, Puluhan Anak Masuk Grup “True Crime”

Awalnya mungkin cuma nonton video misteri atau kriminal. Lama-lama, scroll berubah jadi candu. Tanpa sadar, puluhan anak di Indonesia kini masuk komunitas daring yang isinya bukan sekadar cerita, tapi kekerasan.

T. Budianto
Last updated: Januari 14, 2026 8:13 am
By T. Budianto
3 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, JAKARTA- Densus 88 Antiteror Polri mengungkap fakta mengkhawatirkan: 70 anak diketahui tergabung dalam grup “true crime community” yang mengandung konten kekerasan.

Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, mengatakan puluhan anak tersebut tersebar di 19 provinsi. Jumlah terbanyak berasal dari DKI Jakarta (15 anak), disusul Jawa Barat (12 anak) dan Jawa Timur (11 anak). Selebihnya tersebar di berbagai daerah lain.

“Untuk usia, rentangnya dari 11 sampai 18 tahun, dan paling banyak berusia 15 tahun, fase transisi dari SMP ke SMA,” ujar Mayndra dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu, (7/1/2026).

Dari total 70 anak, 67 anak sudah dilakukan intervensi, mulai dari asesmen, pemetaan, konseling, hingga pendampingan lainnya. Langkah ini dilakukan Densus 88 bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

Baca juga: Jejak Sunyi Densus 88 Bongkar Rekrutmen Anak Lewat Dunia Maya

Hasil asesmen menunjukkan ada beberapa faktor yang mendorong anak-anak ini masuk ke komunitas tersebut. Yang paling dominan adalah perundungan. Banyak dari mereka merupakan korban bullying, baik di sekolah maupun lingkungan sekitar.

Faktor berikutnya adalah kondisi broken home. Anak-anak ini berasal dari keluarga yang tidak utuh, kurang perhatian, mengalami trauma, hingga sering menyaksikan kekerasan di rumah.

“Di komunitas ini, mereka merasa punya rumah kedua. Aspirasi mereka didengar, bisa berdialog, dan saling memberi masukan, meskipun dibungkus dengan kekerasan,” jelas Mayndra.

Akses Gedget

Pemicu lainnya adalah akses gadget yang berlebihan. Dari temuan di lapangan, sebagian besar anak terlalu sering menggunakan gawai tanpa pengawasan memadai.

Selain itu, mereka juga terpapar konten kekerasan, pornografi, dan perilaku menyimpang lainnya yang mudah diakses di ruang digital. Mayndra menegaskan, komunitas true crime ini tidak dibentuk oleh organisasi atau institusi tertentu. Ia tumbuh secara sporadis, seiring masifnya perkembangan media digital.

“Ini pertemuan antara minat terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang bersifat transnasional,” katanya. Propaganda kelompok ini menyebar lewat media sosial, dikemas dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik yang terlihat menarik.

Baca juga: Awas! Anak Muda Bisa Terpapar Radikalisme dalam Hitungan Bulan dengan Cara Ini

Konten tersebut berpotensi menyusupkan paham ekstremisme sebagai sesuatu yang terlihat “keren” atau inspiratif. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya, terutama ketika bertemu dengan psikologis anak yang masih mencari jati diri, belum punya kemampuan berpikir kritis, dan haus pengakuan.

Akibatnya, paparan radikalisme dan kekerasan di media sosial bisa dengan cepat memengaruhi emosi, perilaku, dan cara berpikir anak-anak. Di era digital, anak-anak bisa nemu apa saja, termasuk “rumah kedua” yang isinya salah arah. Kalau HP lebih sering nemenin daripada orang tua, jangan heran kalau algoritma yang akhirnya ikut mendidik. (tebe)

You Might Also Like

Kang Mus Salurkan Bantuan Kapal Sopek untuk Nelayan Mlonggo: Bentuk Cinta dari PDIP

Baru, David Beckham Tukang Kebun: Dari Lapangan ke Lahan

AKBP Basuki yang Telantarkan Dosen Untag Divonis 6 Tahun, Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa

Biar Nggak Kaget: Wagub Mau Ada Kelas Pra-Nikah

Saat Ribuan Warga Klaten Bilang “Siap Lepas dari Bansos”

TAGGED:Densus 88headlineradikalisme
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Mau Mudik Gratis? Ini Cara Daftarnya, Kuotanya Belasan Ribu!
Next Article Ilustrasi anak terpapar konten radikalisme dan terorisme dari game online. 22 Anak di Jateng Terpapar Konten Kekerasan, Densus 88 Endus Metode Tebar Jaring di Medsos

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PEMERIKSAAN AUTOGATE: Penumpang pesawat di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang menggunakan autogate saat melewati pemeriksaan imigrasi, Rabu (30/9/2026). (bae)

Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Ahmad Yani Lebih Praktis, Sekarang Pakai Autogate

Kepulan asap membumbung tinggi di area TPA Jatibarang Semarang, Rabu (30/9/2026). (bae)

BREAKING NEWS: TPA Jatibarang Semarang Terbakar Malam Ini

Giant Sea Wall Dikhawatirkan Ganggu Nelayan

KORBAN KERACUNAN MBG - Polisi menjenguk korban keracunan MBG di Batang yang dirawat pada sebuah fasilitas kesehatan (faskes) setempat.

Korban Dugaan Keracunan MBG di Jateng Tembus 13 Ribu Orang

TRANSFORMASI LAYANAN PELANGGAN - PLN Icon Plus turut mengembangkan transformasi layanan pelanggan melalui implementasi New Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat (AP2T) Wave 4 di Jawa Tengah dan Yogyakarta. KUNJUNGAN INDUSTRI - Siswa Jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) SMK Muhammadiyah Imogiri kunjungi PLN Icon Plus di Semarang, untuk mengenal lebih jauh industri teknologi digital.

PLN Icon Plus Perkuat Pembelajaran Siswa TJKT Muhammadiyah Imogiri melalui Pengalaman Industri

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Hukum

Kuota Hangus? DPR Bilang Saatnya Operator Lebih Ramah ke Pelanggan

Juli 25, 2026
Hukum

AKBP Basuki Masih Andalkan Jurus Langkah Seribu Hindari Wartawan

Mei 20, 2026
Pengamat politik Undip, M Yulianto.
Politik

Pilkada lewat DPRD Disukai Parpol, Lobi Elite Lebih Gampang

Januari 18, 2026
KERJA SAMA - PLN Icon Plus gandeng Kejari Sleman untuk perkuat tata kelola bisnis digital berkelanjutan.
Ekonomi

PLN Icon Plus Gandeng Kejaksaan, Siapkan Tata Kelola Bisnis Digital Berkelanjutan

Juli 13, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ngeri Tapi Nyata, Puluhan Anak Masuk Grup “True Crime”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?