BACAAJA, SEMARANG- PDAM Tirta Moedal Kota Semarang bareng stakeholder terkait bakal segera menggelar evaluasi besar-besaran soal penataan dan penguatan seluruh infrastruktur hydrant di kota ini. Langkah ini diambil setelah muncul laporan hidran yang tertimbun cor jalan di kawasan Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan.
Plt Direktur Teknik PDAM Kota Semarang, Hariyadi bilang, rapat koordinasi lintas instansi bakal digelar dalam waktu dekat. Targetnya jelas: hidran jangan sampai cuma jadi pajangan, apalagi “hilang” pas dibutuhkan.
Baca juga: Soal Kebakaran dan Kekeringan, PDAM: Air Gratis
Menurut Hariyadi, sejak awal PDAM sudah berkomitmen penuh mendukung tugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), terutama dalam kondisi darurat kebakaran. Mulai dari suplai air langsung ke lokasi kejadian, sampai membuka akses pengambilan air di sejumlah titik milik PDAM.
“Di hari biasa, mobil damkar boleh ambil air di terminal PDAM. Ada IPA Kudu untuk wilayah timur, Reservoir Manyaran buat wilayah barat, dan titik-titik lainnya,” ujarnya.
Menariknya, dukungan ini masuk kategori CSR, alias Damkar nggak dikenai tagihan air. Fokusnya satu: api cepat padam, urusan administrasi belakangan.
Peta Sama
Soal hidran, PDAM nggak mau kerja sendirian. Rapat koordinasi nanti bakal melibatkan Dinas Damkar, Dinas Pekerjaan Umum, dan instansi terkait lainnya. Tujuannya biar semua pihak punya peta yang sama.
“Nanti kita inventarisasi bareng Damkar. Jumlah hidran berapa, lokasinya di mana saja, dan masih berfungsi atau tidak,” jelasnya. Bahkan, nggak menutup kemungkinan bakal dibahas juga penambahan titik hidran baru, terutama di kawasan yang masuk zona rawan kebakaran versi pemetaan Damkar.
Terkait hidran yang sempat tertimbun cor di Jalan Brigjen Katamso, Hariyadi menjelaskan bahwa hal itu terjadi akibat proyek pengecoran jalan oleh Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya Jawa Tengah.
Baca juga: Penemuan Jenazah di Reservoir Siranda, PDAM Pastikan Air Masih Aman Dikonsumsi
“Begitu dapat info ada hydrant ketutup cor, kami langsung koordinasi dengan DPU-BMCK Jateng yang saat itu sedang mengerjakan jalan,” katanya. PDAM pun bergerak cepat. Pada 31 Januari 2025, hidran yang terdampak langsung direposisi dan dipindahkan beberapa meter dari lokasi awal agar tetap bisa difungsikan.
Hidran itu bukan fosil yang boleh dikubur proyek. Di kota rawan kebakaran, air harus lebih siap dari api, bukan malah kalah cepat sama adukan semen. (tebe)

