BACAAJA, SEMARANG– Kawasan Gubernuran Semarang mendadak berubah jadi “lautan biru”, Senin (8/12). Bukan, ini bukan karena kehadiran Snex atau Panser Biru, tapi ribuan buruh Serikat Pekerja Nasional dari berbagai daerah di Jateng tumplek blek di depan Kantor Gubernur
Dari Rembang sampai Brebes, dari Jepara sampai Magelang, semua datang bawa satu semangat: nuntut upah naik dan lawan aturan yang dianggap makin bikin buruh megap-megap.
Aksi dibuka cukup megah. Panglima Komando Aksi Nasional, KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Nasional), dan Partai Buruh, Buya Fauzi yang datang langsung dari Jakarta naik ke mobil komando dan mengajak massa menyanyikan Indonesia Raya. Suasananya kayak upacara bendera, tapi versi nada tinggi.
Baca juga: Setahun Prabowo-Gibran: PHK di Mana-mana, Buruh Makin Sengsara
Habis lagu selesai, tensi langsung naik. Ia ngegas soal Omnibus Law dan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pengupahan yang menurutnya cuma bikin buruh makin kepepet. “Pertumbuhan ekonomi kita gede, tapi buruh masih diinjak. Kalau aturan pengupahan 2026 tetap lanjut, ya kita lawan!” teriaknya, bikin massa makin panas.
Perumpamaan Satir
Bukan cuma itu. Ketua DPD SPN Jateng, Maksuri Glo, bahkan ngasih penyamaan yang nyelekit dan satir abis. “RPP Pengupahan itu kayak drakula penghisap darah buruh,” katanya. Buruh langsung sorak, seolah setuju kalau aturan baru itu sama seramnya kayak film horor.
Ia bilang RPP Pengupahan cuma memperkuat Omnibus Law yang dari dulu bikin buruh waswas: PHK makin gampang, pesangon makin tipis. “Kalau tuntutan ini nggak ditindaklanjuti, kami datang lagi dengan gelombang lebih besar. Mogok daerah? Gas,” ujarnya.
Baca juga: Rumus Baru, Nasib Lama: Buruh Tetap Mengeluh
Inti tuntutan hari itu simpel: upah 2026 naik 8,5-10 persen, dan kewenangan pengupahan balik lagi ke daerah. Nggak pakai intervensi gubernur, nggak pakai rumus yang disebut-sebut bikin buruh “meriang.”
Kalau rumus pengupahan benar kayak drakula, semoga pemerintah ingat: tiap drakula biasanya kalah sama cahaya. Ya kali buruh harus bawa bawang putih dulu biar aturan berubah? (dul)

