Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?

Redaktur Opini
Last updated: Desember 8, 2025 9:42 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.

Media sosial, terutama TikTok dan Instagram, turut mempopulerkan “hadiah untuk diri sendiri” yang identik dengan barang atau aktivitas berbiaya mahal.

 

Istilah self-reward menjadi sangat populer, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, di media sosial. Setelah ujian dan tugas menumpuk selesai, atau sekadar berhasil berangkat pagi saat ada kelas pagi, banyak dari kita merayakannya dengan membeli kopi, jalan-jalan, atau sekadar meluangkan waktu untuk me time.

Pertanyaannya: apakah self-reward benar-benar merupakan kebutuhan psikologis, atau hanya sekadar mengikuti tren di media sosial?

Pada dasarnya, manusia memang membutuhkan penghargaan atas usaha diri sendiri, yang dalam psikologi dikenal sebagai self-reinforcement. Self-reward menjadi penting karena ini adalah bentuk apresiasi terhadap kerja keras yang telah kita lakukan.

Lebih dari sekadar hadiah kecil, self-reward dapat menjadi cara untuk mencintai diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa energi yang berkurang saat belajar berjam-jam, mengerjakan tugas hingga larut malam, atau menghadapi jadwal kuliah yang padat patut diapresiasi, semua itu semua perlu mendapat apresiasi yang setimpal.

Memberi jeda berupa hadiah sederhana dapat memulihkan semangat sekaligus mencegah burnout. Namun, masalah muncul ketika self-reward yang awalnya merupakan kebutuhan berubah menjadi gaya hidup konsumtif. Media sosial, terutama TikTok dan Instagram, turut mempopulerkan “hadiah untuk diri sendiri” yang identik dengan barang atau aktivitas berbiaya mahal.

Lama-kelamaan, terbentuklah pola pikir bahwa self-reward harus berupa pembelian suatu barang atau perayaan berupa menghadiahi diri dengan liburan atau jalan-jalan. Padahal, inti self-reward bukanlah konsumsi, melainkan penghargaan terhadap diri sendiri.

Pelajar dan mahasiswa menjadi kelompok yang paling rentan terjebak dalam pola tersebut. Ketika tekanan akademik meningkat, dorongan untuk “merayakan diri” pun ikut naik.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang melakukan self-reward tanpa mempertimbangkan kondisi finansial, bahkan sampai menggunakan paylater atau berutang kecil-kecilan. Alih-alih mereka sedang memulihkan energi, perilaku ini justru menciptakan beban baru dan menambah stres.

Di sisi lain, ada banyak bentuk self-reward yang lebih sehat, hemat, dan tetap bermanfaat seperti tidur lebih awal, menghabiskan waktu dengan teman dekat, menonton film, berolahraga, atau sekadar tidak menyentuh tugas selama beberapa jam. Cara-cara tersebut lebih realistis serta lebih dekat dengan tujuan awal self-reward yaitu dengan merawat diri, bukan menguras dompet.

Jadi, apakah self-reward itu tren atau kebutuhan?

Jawabannya keduanya. Self-reward memang dibutuhkan karena menjadi cara sederhana untuk memulihkan energi dan menghargai usaha diri. Hadiah kecil membantu menurunkan stres dan menjaga motivasi, terutama ketika tuntutan akademik terasa berat.

Di sisi lain, budaya media sosial sering mengubah self-reward menjadi tren konsumtif. Yang tadinya berbentuk istirahat atau aktivitas sederhana, berubah menjadi kewajiban membeli sesuatu agar dianggap “mengapresiasi diri”. Di sinilah batas antara kebutuhan dan gaya hidup mulai kabur.

Karena itu, tantangannya adalah mengembalikan makna self-reward agar tidak sekadar mengikuti tren. Self-reward yang sehat tidak harus mahal. Intinya bukan apa yang dibeli, tetapi bagaimana kita menghargai diri secara sadar. Dengan cara tersebut, self-reward benar-benar menjadi bentuk pemulihan, bukan dorongan konsumsi semata.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Perihal Pajak dan Kekhawatiran Seorang Lelaki Beristri

Antara Pemenuhan Seksual dan Kepuasan Emosional, Pilih Poliamori atau Open Relationship?

Ronaldo, Messi, dan Fanatisme Sepak Bola di Indonesia

Hal yang Sering Kita Lewatkan Ketika Menyoal Kekerasan Seksual di Kampus

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi terpidana berada di dalam sel penjara. Jateng Bakal Nerapin Hukuman Kerja Sosial, tapi Gak Semua Napi Bisa
Next Article Ustaz, santri, dan segenap kru bacaaja.co berdoa di kantor baru, Sabtu (6/12/2025). (bae) Berkah! Santri Yatim dan Asatidz Doa Bersama untuk Kantor Baru Bacaaja.co

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PIAGAM PENGHARGAAN: Kolase foto piagam penghargaan Kantor Advokat da. Kurator LDN Ernst yang diberikan Hukumonline dalam ajang pemeringkatan Top 100 Indonesian Law Firm 2026. (ist)

LDN Ernst Raih Dua Penghargaan, Diakui Law Firm Terbaik di Jateng

FOOD FESTIVAL - Pembeli sedang memesan cahkwe di food festival kawasan Pecinan Semarang, Jumat (25/9/2026). (dul)

Berburu Kuliner di Heritage Food Festival Pecinan Semarang, Pengunjung Soroti Tenant Halal dan Nonhalal

Anak bungsu pasangan Soekarno-Fatmawati, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra (Guruh Soekarnoputra).

Profil Guruh Soekarnoputra, Jejak Sosok Politikus Marhaenis cum Seniman

SAMBUTAN HANGAT - Rotasi kepemimpinan PLN Icon Plus SBU Region Jawa Bagian Tengah disambut hangat segenap personel. Ardhika Hadisaputra kini mengemban amanah sebagai Manager Unit Layanan DI Yogyakarta.

Rotasi Kepemimpinan PLN Icon Plus, Ardhika Hadisaputra Jadi Manager Unit Layanan DI Yogyakarta

Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden Soekarno-Fatmawati.

BREAKING NEWS: Guruh Soekarnoputra Meninggal, PDIP Kibarkan Bendera Setengah Tiang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Terjepit di Antara Narasi yang Saling Berbenturan

Juni 29, 2026
Kabupaten Magelang meluncurkan program angkutan sekolah gratis yang bukan hanya menjawab persoalan transportasi, tapi juga menyentuh aspek keselamatan pelajar, akses pendidikan, dan keberlanjutan angkutan umum.
Opini

Inovasi Pro Rakyat: Kabupaten Magelang Wujudkan Angkutan Pelajar Gratis

September 18, 2025
Opini

Krisis Bikinan Itu Bernama Krisis Sampah

Maret 31, 2026
Opini

Pukul Rata Tuduhan KIP Kuliah Salah Sasaran Justru Problematis

Juli 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?