Widyanuari Eko Putra, buruh swasta dan periset lepas. Tinggal di Batursari, Demak.
Manusia mungkin bisa bebas sebebas-bebasnya, tapi mungkinkah ia lepas dari cengkeraman kesepian?
Tiga puluh hari lagi tahun 2026, dan seorang lelaki yang tahun depan berumur tiga puluh tujuh, masih memutar Compact Disc (CD) alias cakram padat untuk keperluan mendengarkan lagu. Barangkali orang-orang akan menyebutnya jadul atau old school. Sebaliknya, ia menganggap sebutan itu berlebihan.
Lelaki itu mencoba rasional: cara terbaik mendengarkan album musik memang sudah seharusnya melalui peranti cakram padat. Itu yang pertama, sedangkan yang kedua ialah piringan hitam. Kualitas suara dan tata cara menikmati lagu menjadi pertimbangan utama. Dengan memutarnya ia merasa seperti diajak menyimak satu keseluruhan cerita, juga satu persembahan komposisi musik yang utuh. Tidak terjebak dalam hasrat cepat-cepat next seperti saat memutarnya lewat DSP atawa Digital Service Provider.
Memutar album musik dalam cakram padat mengajari lelaki itu bersabar dalam menikmati lagu, sekaligus peka memindai suara-suara yang masuk ke telinga. Kecepatan teknologi seringkali membuat manusia jadi serba terburu-buru dalam apa saja, dan imbasnya membuat mereka jadi merasa gampang bosan. Menyimak lagu kerap jadi sambil lalu, asal terdengar, melintas begitu saja. Cakram padat dan piringan hitam menolak hal-hal itu.
Malam hampir sempurna, lelaki itu mengambil kotak CD dan kemudian memutar Leonard Cohen dengan “Suzanne” menjadi lagu pertama yang ia dengar, disusul berurutan “Sisters of Mercy”, “So Long Marianne”, dan “Bird on The Wire”. Album “Greatest Hits” itu memang sudah lama menghuni rak tempat ia memajang puluhan album musik kesukaannya.
Album yang sebenarnya jarang lelaki itu putar, tetapi lantaran sampai selarut itu ia masih saja terjaga, ia pun jadi punya alasan untuk memutarnya. Ada satu keyakinan dalam dirinya, semua peristiwa dalam hidup manusia semestinya punya soundtrack tersendiri.
Masing-masing orang sewajarnya menentukannya sendiri. Dan lagu-lagu Cohen bagi lelaki itu adalah soundtrack terbaik pengantar menuju kantuk. Seluruh lagu di album itu menenangkan dan bikin ia gampang mengantuk. Tak ubahnya menyimak seorang bapak-bapak bijak yang jarang mengumbar nasihat, tetapi suka bercerita tentang kehidupan masa mudanya pada masa lalu.
Suara Cohen begitu sopan di telinga. Seteriak apa pun ia bernyanyi, nada-nada yang meluncur dari pita suaranya tetap terdengar lembut. Sementara petikan gitarnya kerap terdengar sayup-sayup, menimbulkan kesan seolah-olah seluruh lagu yang ia tulis serupa cerita pendek dengan latar dini hari yang sunyi.
Biasanya tak sampai lagu keenam ia sudah ketiduran, dan membiarkan pemutar CD off otomatis. Ia merasa begitu tenteram saat menyimak lagu “Bird on The Wire”. Itu terdengar seperti teriakan atas semangat kebebasan, tetapi dalam bungkus yang paling rapi. Jauh dari teriakan seorang mahasiswa tingkat akhir saat berdemo.
Lelaki itu suka sekali penulis lagu dengan ketangkasan menjalin metafora. Simon and Garfunkel dengan metafora “like a bridge over trouble water”, misalnya, termasuk lirik lagu yang paling ia sukai sejak kali pertama mendengarnya hingga sekarang, dan bahkan sampai kiamat kelak. Pun ketika lagu itu dibawakan ulang dengan aransemen yang sama sekali lain dari aslinya oleh Johnny Cash, ia justru makin yakin bahwa lirik metaforis itu memang layak abadi.
Ada beribu-ribu metafora dalam lagu, kita bisa mencomotnya satu sekadar diingat kembali pada momen yang tepat. Petikan lagu “Hey Jude”-nya The Beatles terdengar benar-benar seperti nasihat seorang ayah yang bijak kepada anaknya, Don’t carry the world upon your shoulders. Metafora sederhana itu kiranya akan terasa dekat dan nyata, tepatnya ketika seorang lelaki memasuki umur tiga puluhan sementara beban hidup dan tanggungan kian berat, seperti truk dam kepayahan lantaran kelebihan muatan batu-batuan.
Pada urusan yang sama Cohen memilih personifikasi “burung di atas seutas kabel”. Itu adalah perlambang kebebasan yang sejatinya tak pernah punya ketidakterbatasan. Seekor burung mungkin saja merasa begitu bebas bisa terbang ke mana saja, sejauh mungkin ia bisa, meski pada akhirnya ia lelah dan mesti beristirahat di atas seuntai kabel, lantas melewatkan malam yang dingin sendirian di ketinggian.
Seandainya burung itu bisa merasakan kesepian seperti manusia, ia tentu tak akan lama-lama bertengger di atas sebuah kabel. Menundukkan kepala dan sesekali tampak diam dan kaku seperti patung bodoh. Bukankah akan lebih baik ia mencari pasangan agar bisa ia ajak bercumbu semalaman suntuk? Kau kira binatang tidak bisa bercumbu?
Tapi barangkali “pasangan” adalah onak bagi seorang penyembah kebebasan. “Like a bird on the wire, like a drunk a midnight choir, i have tried in my way to be free,” tulis Cohen di larik pertama lagu itu. Begitu tenang didengar, tapi terasa menggoncangkan dalam pemaknaan. Setiap upaya mengayuh kebebasan selalu dibarengi kenyataan bahwa, jalan yang akan dilalui pastilah curam dan menikung.
Manusia mungkin bisa bebas sebebas-bebasnya, tapi mungkinkah ia lepas dari cengkeraman kesepian? Dan memang begitulah kesan-kesan yang bakal merangkulmu ketika memutar Cohen pada tengah malam buta. Suara desir angin dari pendingin udara kian menyeret lelaki itu ke pojok ruangan. Di sanalah Cohen berbisik di telinganya: I hope you know it was never to you…
Seandainya lelaki itu dulu tak membeli album berkelir kuning tersebut, ia tentu akan terlambat mengetahui bahwa Cohen hobi sekali menulis lagu di penginapan. Di sampul albumnya Cohen menulis latar belakang penulisan lagu-lagunya. Lagu “Bird on The Wire” sendiri mulai ditulis di Yunani, kemudian selesai di sebuah motel di Hollywood kisaran 1969. Inilah lagu yang sepengakuan Cohen selalu masuk list di setiap ia manggung.
Penyanyi dan penginapan tentu dua hal yang akan selalu dekat dan akrab. Penyanyi ibarat seorang avonturir. Sewaktu-waktu ia memerlukan kamar yang tenang untuk sekadar merebahkan badan, serta kamar mandi dengan fasilitas air hangatnya yang bisa melorotkan segala pliket keringat dan rasa lelah. Cerita dan kenangan pun seringkali tertinggal di sana. Agaknya terlalu banyak dosa dan rahasia manusia tertinggal di selimut dan lantai kamar mandi penginapan.
Penginapan adalah muasal cerita, persis seperti kisah di balik lagu “Sisters of Mercy”. Pada malam musim dingin di kota Alberta, Kanada, Cohen menginap di sana bersama dua perempuan yang kebetulan tidak kebagian kamar, dan dalam amatannya kedua perempuan itu tampak sangat kelelahan. Barbara dan Lorraine namanya. Cohen pun menyilakan keduanya tidur di kamarnya, sementara ia sendiri memilih begadang sampai pagi. (Informasi ini agak janggal, tapi baiklah kita kesampingkan sementara demi kelancaran esai ini).
Dari kaca jendela tampak butiran salju berjatuhan ritmis. Naluri kesenimanan Cohen pun menyala, dan ia sigap menangkap momen itu. Ia menulis dengan cepat dan akurat. Sebelum dua perempuan di kamarnya itu terbangun, sebuah lagu selesai ditulis, dan sejarah mencatatnya sebagai salah satu lagu terbaik milik Leonard Cohen. Lelaki itu menyimak lagu itu dengan pikiran kosong dan hati yang lapang. Secuplik lirik terngiang di telinganya, Yes, you who must leave everything that you cannot control.
Jarum pendek jam bergeser ke angka satu. Lelaki itu tidak seperti biasanya, tak jua disergap kantuk. Pemutar lagu sudah dimatikan. Mustahil rasanya bila ia begadang seperti saat Cohen menggubah lagu dalam semalam. Ia tahu besok pagi ia harus bergegas masuk kantor.
Begadang hanya akan membuat paginya terasa menyedihkan, dan ia bisa memastikan harinya bakal berantakan lantaran kepala pyar–pyaran dan tubuh sempoyongan kurang tidur. Ia tidak sedang di dalam penginapan, dan di luar sana pun tidak ada salju berjatuhan. Ia mengambil telepon genggam lalu membuka catatan, dan ia mulai mengetik esai ini. (*)
Desember, 2025
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


