Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Efek Tinju “Low Blow” Amien Rais
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Efek Tinju “Low Blow” Amien Rais

Redaktur Opini
Last updated: Mei 6, 2026 8:13 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Sungguh, mempersoalkan soal kelamin penguasa, itu hanya akan membuat kita menghirup candu pertunjukan hal-hal yang remeh temeh.

 

Peringatan Hari Buruh diadakan di Monas. Presiden sendiri datang ke sana: joget-joget, pidato, dan lepas baju yang dilemparkannya ke massa buruh. Sangat terasa bahwa buruh tidak lagi menjadi gerakan. Ia menjadi kerumunan (crowd).

Tidak ada yang lebih perih dari menyaksikan para buruh menerima sembako. Itu dibagikan setelah upacara dan joget-joget oleh Presiden.

Tadi pagi, saya lewat satu jalan di wilayah Jakarta yang macet. Jalan itu sempit. Ia macet karena orang-orang miskin—dengan pakaian lusuh—antre makanan gratis.

Sopir taksi saya mengatakan bahwa makanan itu adalah Jumat Berkah, yang dibagikan oleh seorang yang kaya di sana. Biasanya tidak saja nasi bungkus yang diterima oleh kaum papa ini. Tapi juga uang 50 ribu.

Sopir taksi saya punya pandangan tersediri tentang ini. “Ingin sekali rasanya bisa seperti itu, Pak?” katanya. “Seperti apa? Oh, terima Jumat Berkah?” tanya saya dengan nada super oon. “Pengin bisa kasih Jumat Berkah, Pak. Rasanya pasti plong sekali bisa ibadah dan dosa-dosa kita diringankan,” balasnya.

Saya hanya menjawab, “Oh!” Saya tahu bahwa saya sudah masuk wilayah yang tidak bisa diperdebatkan. Itu sudah titik! Alihkan pembicaraan ke hal lain kalau mau bicara.

Kemudian agak malaman, saya menerima video dari Amien Rais. Politisi gaek ini mempersoalkan orientasi seksual seorang pembantu terdekat Presiden Prabowo Subianto. Saya yakin, video itu sudah beredar ke mana-mana. Dan, Anda juga pasti sudah menontonnya.

Amien Rais menyuruh Prabowo menjauh dari stafnya itu. Amien bahkan juga membuat drama dengan menyeret Titiek Soeharto, mantan istri Prabowo, dan mengutip lagu yang dinyanyikannya sebagai “penguat” orientasi seksual itu.

Dia meminta agar Prabowo menjauhkan diri dari “gelendotan” stafnya itu (bayangkan bahasa Eny Arrow yang dipakainya!).

Tuduhan Amien Rais ini tidak main-main. Juga sama sekali tidak adil. Ia mendudukkan seolah-olah Prabowo adalah korban. Mengapa tuduhan itu tidak diarahkan para Prabowo sendiri? Spekulasi saya adalah karena Amien Rais takut! Dia memilih menginsinuasi dan memukul yang lebih lemah.

Lalu apa hubungannya dengan soal buruh dengan sembako dan kaum miskin kota penerima sembako tadi?

Untuk saya sangat berhubungan. Amien Rais adalah seorang politisi. Dia tahu persis isu apa yang bisa dia jual untuk meraih keuntungan yang tinggi. Dia sengaja memilih, dalam istilah tinju namanya “low blow,” pukulan ke arah organ vital yang sangat menyakitkan.

Dan begtiulah perdebatan-perdebatan politik kita. Soal ijazah, soal kelamin. Tidak lebih dari itu. Dan para elit politik kita menjadikan ini sebagai “standar moral” tertinggi.

Jika ini adalah soal moral, tidak ada yang berani memikirkan dan bicara mengapa buruh dan rakyat miskin perlu bansos atau makan gratis?

Saya sendiri bisa maklum mengapa kaum miskin mau menerima bansos dan makan gratis. Yang harus diurus adalah perut hari ini. Persoalan keadilan jangka panjang bisa menunggu karena tubuh ini akan mati tanpa asupan hari ini. 2.5 kilogram beras, seliter minyak, dan uang lima puluh ribu atau syukur kalau ada tambahan telor atau gereh!

Namun, ini tidak menyelesaikan persoalan. Seperti ditulis dalam puisi Wiji Thukul, “Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai”. Bansos atau derma bentuk apa pun tidak akan membawa bangsa ini ke kemajuan.

Itulah. Politisi macam Amien Rais memilih “low blow” supaya kita tidak memperdebatkan hal-hal rumit seperti dekatnya kita pada kebangkrutan (default) fiskal, subsidi yang membengkak, program-program boros tapi bocor secara sistematis dalam skala fantastis seperti MBG, KopDes Merah Putih, krisis sampah yang dibikin oleh Jakarta demi program waste to energi, dan kekuasaan BGN, PT Agrinas Palma, Agrinas Pangan, serta Agrinas Jaladri, yang mengelola dana ratusan triliun, remiliterisasi besar-besaran yang entah bagaimana nanti membiayainya, dan lain sebagainya.

Seharusnya kita meminta pertanggungjawaban atas soal-soal itu. Karena masa depan bangsa ini tergantung dari semua kebijakan itu.

Sungguh, mempersoalkan soal kelamin penguasa, itu hanya akan membuat kita menghirup candu pertunjukan hal-hal yang remeh temeh.

Mengapa politisi macam Amien Rais ini bergerak ke sana? Karena dia gampang! Dan dia sama sekali tidak peduli, dengan mengarahkan kanon politiknya pada orientasi seksual ini, kita bisa pastikan bahwa anti-LGBT akan naik. Banyak yang akan disiksa, dipukuli, dan didiskriminasi. Orang seperti Amien Rais rupanya tidak keberatan dengan semua itu. Karena untuk dia, mereka semua ini adalah para maksiat yang harus diberantas dari muka bumi.

Terus terang, saya ngeri dengan cara berpikir fasis ini. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

 

You Might Also Like

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Hal yang Sering Kita Lewatkan Ketika Menyoal Kekerasan Seksual di Kampus

Semasa Kecil di Sawah

Indonesia Bukan Krisis Petani, tetapi Krisis Kapabilitas Pertanian

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Audit Diprotes, Kades Hoho Siap Lawan Lewat Jalur Hukum
Next Article BIDIK KASUS - Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK Bidik Dugaan Markup Sepatu Sekolah Rakyat: Kita sedang Pelajari

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sekolah Rakyat Disiapkan Jadi Jalan Keluar Kemiskinan

Rektor SCU Soroti Dana MBG: Jangan Sampai Besar Anggaran, Kecil Dampaknya

JALANI SIDANG--Dua terdakwa kasus pencucian uang, Gus Yazid dan Andhi Nur Huda menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (5/8/2026). (bae)

Dituntut 6 Tahun Penjara, Gus Yazid Minta Dibebaskan dari Kasus Pencucian Uang Libatkan Letjen Widi

BERBINCANG SANTAI - Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Semarang, Rahmulyo Adi Wibowo berbincang santai bersama BacaAja di depan kandang ayam miliknya. (dul)

Cara Unik Politikus PDIP Semarang Rawat Konstituen, Pelihara Ratusan Ekor Ayam

DEPORTASI WNA--WNA China pelaku love scamming yang sempat diamankan Imigrasi Semarang, akhirnya dideportasi ke negaranya. (ist)

Empat WN China Sindikat Love Scamming Dideportasi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Desember 17, 2025
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025
Opini

Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian

Maret 19, 2026
Opini

Matinya Altruisme?

Juni 3, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Efek Tinju “Low Blow” Amien Rais
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?