BACAAJA, CILACAP – Hujan yang tak henti mengguyur Cilacap sejak Sabtu sampai Selasa malam bikin banyak warga cuma bisa pasrah. Dalam waktu empat hari, air meluap di mana-mana, tanah pun ikut ambruk di sejumlah titik.
Data dari BPBD Cilacap mencatat, ada 13 desa di enam kecamatan yang terendam banjir, sementara delapan desa di lima kecamatan lain kena longsor. Angka itu belum termasuk jalan-jalan yang tertutup lumpur dan akses warga yang lumpuh.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Cilacap, Budi Setyawan, bilang penyebab utama karena curah hujan ekstrem yang bikin sungai-sungai besar di bagian barat dan utara nggak kuat nahan debit air.
“Debit air nggak tertampung, tanggul beberapa juga rusak, jadi air langsung masuk ke rumah warga,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, sampai relawan lokal langsung turun. Fokusnya evakuasi dan bantu warga di Kecamatan Wanareja dan Majenang, dua wilayah yang paling parah tergenang.
Desa seperti Ujunggagak, Panulisan Barat, Mandala, Bantarsari, sampai Padangsari dan Mulyadadi semuanya kebanjiran. Ada sekitar 1.201 rumah terendam, dengan ketinggian air bervariasi dari semata kaki sampai sepinggang orang dewasa.
Satu masjid, satu balai desa, dan dua sekolah juga ikut kena imbasnya. “Total ada 41 kepala keluarga atau 74 jiwa yang sudah dievakuasi ke Madrasah Ma’arif Sidamulya,” tambah Budi.
Sementara di daerah perbukitan Cilacap bagian barat, situasinya beda tapi tetap gawat. Tanah longsor datang bergantian di Desa Panulisan Barat, Bingkeng, Salebu, Babakan, Ciporos, Surusunda, Pesahangan, dan Mandala.
Total ada 11 rumah rusak dan satu balai dusun ikut terdampak. Material longsor menutup sembilan ruas jalan, termasuk akses utama antar-desa. Kerugian sementara ditaksir sekitar Rp235 juta.
“Alat berat sudah kita turunkan dari BBWS Citanduy dan Dinas PUPR. Sekarang sebagian jalan udah bisa dilewati,” jelas Budi lagi.
BPBD Cilacap kini buka posko siaga 24 jam, lengkap dengan bantuan logistik dan tenaga medis. Semua instansi ikut bergerak—mulai dari TNI, Polri, Basarnas, Dinas Sosial, PMI, sampai relawan setempat.
Mereka membawa perahu karet, alat water rescue, dan excavator buat bantu buka jalur dan kirim bantuan ke lokasi terisolasi.
Bantuan yang disalurkan juga lumayan lengkap: logistik makanan, peralatan keluarga, bahan bangunan rumah, sampai geobag buat memperkuat tanggul sungai yang rawan jebol.
“Kami imbau warga tetap siaga, jangan nunggu air naik baru ngungsi,” tegas Budi.
Di Sidamulya, dapur umum sudah berdiri sejak malam pertama banjir. Puskesmas 2 Wanareja juga buka layanan kesehatan gratis, dibantu PMI yang bagiin pakaian, perlengkapan bayi, dan air bersih.
Pemerintah daerah ikut turun tangan menyalurkan bantuan darurat, sambil memastikan stok pangan dan obat-obatan aman. Tapi hujan yang belum reda bikin warga belum bisa benar-benar tenang.
“Topografi di sini emang rawan banget. Di barat itu banyak perbukitan dan cekungan, jadi air gampang ngumpul, tanah juga gampang longsor,” kata Budi.
Selain hujan ekstrem, faktor saluran air yang dangkal dan tanah labil ikut memperparah genangan. BPBD dorong langkah pencegahan kayak reboisasi dan perbaikan drainase supaya bencana kayak gini nggak terus berulang.
Di tengah guyuran hujan yang belum mau berhenti, warga Cilacap cuma bisa berharap: semoga air segera surut, tanah kembali tenang, dan rumah-rumah bisa kembali dihuni tanpa takut terendam lagi. (*)

