Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Langit Tak Selalu Muram di Tangan Lek Joko Sang Pawang Hujan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Kerjo Aneh-aneh

Langit Tak Selalu Muram di Tangan Lek Joko Sang Pawang Hujan

Nugroho P.
Last updated: Oktober 18, 2025 11:18 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
SHARE

LANGIT mendung bukan tanda sial bagi Lek Joko. Justru di situlah rezeki datang. Saat orang lain panik menutup tenda, ia tenang menatap awan.

Setiap kali ada acara besar di Semarang, namanya sering disebut. Dari pesta pernikahan, konser musik, sampai acara pemerintahan. Semua berharap langit tetap cerah di tangan pria itu.

Lek Joko bukan sekadar pawang hujan. Ia lebih suka disebut “penggeser angin.” Katanya, tugasnya bukan menolak hujan, tapi memindahkannya ke tempat lain.

Baginya, pekerjaan sebagai pawang hujan bukan hal luar biasa. Ia sudah melakoni profesi ini sejak tahun 2005, menjaga langit agar tetap bersahabat di tengah pesta, konser, hingga proyek besar.

Warisan dari Kakek

Cerita Joko dimulai dari masa kecilnya di Solo. Saat teman sebayanya bermain di sawah, Joko lebih suka duduk di serambi rumah, memperhatikan kakeknya berdiri di tengah hujan.

Dia melihat sendiri bagaimana kakeknya bekerja sama dengan alam. Saat hujan lebat disertai petir, kakeknya membaca mantra dan azan. Sesaat setelah itu hujan pun reda.

Dari situlah benih ilmu itu tumbuh. Tak ada sekolahnya, tak ada buku panduan. Ia belajar langsung dari pengalaman dan dari kakek yang sudah lebih dulu dikenal sebagai pawang hujan kampung.

Dari cucu-cucunya, cuma Joko kecil yang dipilih sebagai pewaris. Pewaris ilmu pawang hujan. Dia memang punya kedekatan khusus dengan kakeknya.

Geser Angin, Bukan Melawan Langit

Lek Joko tak mau disebut orang sakti. Yang ia lakukan bukan mencegah hujan turun dengan melawan kehendak alam. Katanya, ia hanya menggeser angin.

“Kita enggak bisa nolak hujan. Wong itu dari Yang di Atas. Kita cuma bisa menggeser lewat angin,” ucapnya saat menjadi narasumber Podcast Kerjo Aneh-Aneh bersama host Lek Slam di YouTube Bacaajadotco.

Namun sebelum bekerja, selalu ada ritual. Malam hari, ia menyalakan dupa, membaca doa dalam bahasa Arab, dan memohon izin pada Yang Maha Kuasa agar langit bersahabat.

Baginya, ritual bukan soal mistik, tapi soal menghormati alam. Ia hanya menjadi perantara, bukan pengendali.

Dari Konser Musik ke Pembangunan Stadion

Nama Lek Joko sudah lama dikenal di kalangan event organizer (EO) Semarang. Hampir setiap konser besar di kota ini pernah menggunakan jasanya. Dari panggung Via Vallen, Wali Band, hingga roadshow besar rokok Apache.

“EO Bandung juga sering pakai saya. Waktu itu keliling Indonesia, dari 2015 sampai 2017,” ujarnya.

Tapi jasanya tak hanya dipakai di dunia hiburan. Ia juga dipercaya dalam proyek-proyek pembangunan besar. “Pernah dipakai di Jambi, terus di Mamuju. Karena waktu ngecor gedung, enggak boleh hujan,” katanya.

Semua berawal dari keberhasilannya menjaga cuaca saat pembangunan stadion di Jepara. “Waktu itu sukses, makanya saya dibawa lagi ke proyek lain. Dari situ kepercayaan datang terus,” ujarnya.

Rezeki di Balik Mendung

Bagi Lek Joko, awan mendung bukan pertanda buruk. Justru di situlah rezeki datang.

Tarifnya tak berubah sejak lama: sekitar Rp1,5 juta untuk satu event. Kalau di luar kota atau butuh berhari-hari, tentu lain cerita.

“Yang penting, ritualnya sama. Enggak ada setengah hari, enggak ada dua jam doang. Semua sama,” katanya tegas.

Tapi di balik profesinya, Lek Joko memegang teguh etika. Ia tak mau disewa untuk tujuan buruk. “Saya disalahi sering, tapi nyalahi orang enggak pernah,” tegasnya.

Pantangan dari Kakek

Dari sang kakek pula, ia mendapat pesan yang selalu diingat sampai sekarang. Pantangannya cuma satu: jangan ganggu istri orang. Kalau dilanggar, ilmunya bisa hilang sendiri.

Pesan itu terdengar sederhana, tapi bagi Lek Joko, itu dasar moral dari semua yang ia kerjakan.

“Mau mabuk, mau judi, enggak papa. Tapi jangan itu. Itu yang bikin semua berantakan,” katanya setengah bercanda.

Etika Langit dan Kompetisi Hujan

Dunia pawang hujan ternyata tak selalu damai. Pernah, ia merasa “diserang” pawang lain saat mengawal konser di Subang.

“Di sebelah acara saya ada kesenian tradisional juga pakai pawang. Dia nembak awan, saya ikut kena. Hujan turun,” ujarnya. Untungnya bisa tetap ia kendalikan setelah 15 menit.

Lek Joko menyebut peristiwa itu sebagai risiko pekerjaan. Kadang radiusnya saling bertabrakan.

Single Fighter Penjaga Langit

Meski namanya dikenal, ia tak tergabung dalam komunitas apa pun. “Enggak ada perkumpulan pawang di Semarang. Saya sendiri aja. Single fighter,” ujarnya bangga.

Baginya, semua cukup dijalani dengan keyakinan. Ia tak merasa perlu menonjolkan diri. “Saya enggak pernah bilang pawang hujan kalau ditanya orang. Bilangnya serabutan aja,” katanya.

Bagi sebagian orang, pekerjaannya aneh. Tapi bagi Lek Joko, inilah jalan hidup. Ia tak menguasai langit, hanya menjaganya agar tak muram terlalu lama. (bae/*)

You Might Also Like

Tukang Cukur Cabul ‘Pemangsa’ Anak SD di Semarang Dituntut 6 Tahun Penjara

Kesaksian Korban Selamat Bus Maut PO Cahaya Trans: Jalan Menikung, Sopir Malah Ngegas

4 Warga China Ditangkap di Semarang, Terlibat Sindikat Love Scamming Internasional

Warga Waswas Banjir Datang Lagi, Tanggul Sungai Jembawan 1 Ambrol Dihantam Arus Deras

Niat Menepi Buat Istirahat, Truk yang Dikemudikan Broto Jadi Sasaran Tabrak N-Max

TAGGED:kerjo aneh anehpawang hujan semarangpekerjaan unikSemarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Next Indonesia: Perluasan Jargas Jadi Kunci Tekan Subsidi LPG
Next Article Ilustrasi keindahan Bali. Bali Kehilangan Mahkota! Phu Quoc Pulau di Vietnam Dinobatkan Jadi yang Terindah di Asia

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ketua Pengarah Pelaksana Soekarno Run SOC 2026, Aria Bima, memaparkan prediksi perputaran uang dari event yang ia helat, Minggu (28/6/2026). (bae)

Soekarno Run Dongkrak Ekonomi Solo, Perputaran Uang Ditaksir Tembus Rp5 Miliar

DAPAT MOBIL--Pelari asal Boyolali, Fikri (berkacamata hitam) menerima hadiah mobil listrik secara simbolis di panggung Soekarno Run SOC 2026. (rng)

Doa Orang Tua Antar Fikri Pelari Boyolali Boyong Mobil Listrik di Soekarno Run 2026

PEMER MEDALI--Nava (dua dari kiri) dan koleganya pamer medali usia mengikuti Soekarno Run SOC 2026. (bae)

Kesaksian Wabup Purworejo hingga Pelari Pemula: Soekarno Run 2026 Bikin Ketagihan

OMZET MENINGKAT--Kedai Bunzen Coffee di kawasan Alun-Alun Utara Keraton Surakarta dipenuhi konsumen yang habis ikut Soekarno Run SOC 2026. (bae)

Berkah Soekarno Run 2026: UMKM Solo Ketiban Rezeki, Dagangan Laris Sejak Subuh

PAPARAN - Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Andhika Satya Wasistho menyampaikan pemaparan terkait tanggung jawab industri saat Kunjungan Kerja Panitia Khusus DPR RI dalam rangka pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Desain Industri ke Provinsi Jawa Tengah.

Usul Progresif Legislator Muda Andhika Satya: Industri Abaikan Warga dan UMKM Kena Sanksi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Sururi sang 'Profesor Mangrove' berbincang dengan host Lakol Lokal Bacaajadotco.
Lakon Lokal

Sururi ‘Profesor Mangrove’ Semarang: Wariskan Kelestarian Alam untuk Anak-Cucu

Januari 6, 2026
Warga ramai-ramai menyelamatkan pengendara motor yang terseret derasnya arus banjir di Kawasan Industri Candi Semarang, Kamis (26/2/2026).
Info

Banjir Parah Terjang Kawasan Industri Candi Semarang: Mobil Terendam, Motor Terseret Arus

Februari 27, 2026
Banjir merendam Kampung Mayangsari, Kalipancur, Semarang, Sabtu (14/3/2026). (ist)
Info

Banjir Kanal Barat Meluap setelah Hujan Deras, Permukiman Semarang Terendam

Maret 14, 2026
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng resmi membuka Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman), Sabtu (7/2/2026).
Info

Lebih dari Sekadar Tradisi, Dugderan Semarang Diperjuangkan Jadi Warisan Budaya Nasional

Februari 10, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Langit Tak Selalu Muram di Tangan Lek Joko Sang Pawang Hujan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?