BACAAJA, GARUT – Drama keracunan massal di Kadungora, Garut, makin bikin heboh. Korban terus bertambah, sekarang tembus 657 siswa dari empat sekolah.
Semua gara-gara makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang katanya sehat, tapi malah bikin bocah-bocah tumbang.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, ngaku prihatin banget. Katanya Pemkab bakal evaluasi total bareng semua pihak biar kejadian kayak gini nggak keulang lagi.
“Koordinasi bakal kita tingkatkan, semua instansi dilibatkan,” ujarnya, Jumat (19/9/2025).
Syakur cerita, sebenarnya Pemkab udah punya Satgas khusus SPPG (Satuan Pengelola Pemberian Gizi). Ada 300 manajer SPPG yang tugasnya ngawasin distribusi MBG. Tapi ya, faktanya ratusan siswa masih kena juga.
Ia juga pastiin biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah.
Sementara itu, Kepala Dinkes Garut, Leli Yuliani, bilang jumlah korban naik drastis. “Kemarin 569, sekarang jadi 657,” jelasnya. Untungnya, sebagian besar gejalanya ringan.
Dari 30 siswa yang sempat dirawat inap, tinggal 10 orang aja yang masih ditahan di puskesmas. Sisanya sudah mendingan dan boleh pulang.
Polisi pun nggak tinggal diam. Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Joko Prihatin, bilang pihaknya udah minta keterangan enam orang saksi, mulai dari guru, korban, sampai tenaga medis. Tapi dari pihak yayasan penyalur MBG, belum ada yang diperiksa.
Buat tahu penyebab pasti, polisi masih nunggu hasil uji lab dari Lapisda Bandung.
Jadi, sementara ini publik cuma bisa sabar nunggu jawaban, sembari berharap program “bergizi gratis” ini jangan-jangan nggak berubah jadi “bergizi gratis, bonus masuk IGD.”
Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi meminta maaf karena ada banyak kasus keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Tentunya kami atas namanya pemerintah dan mewakili Badan Gizi Nasional, memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah,” kata Prasetyo di Kompleks Istana, Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Prasetyo mengatakan, pemerintah tidak pernah mengharapkan adanya kasus tersebut.
“Yang tentu saja itu bukan sesuatu yang kita harapkan dan bukan sesuatu kesengajaan,” ucapnya. (*)

