BACAAJA, SEMARANG – Malam Minggu (14/11) di Kota Lama Semarang mendadak jadi panggung spektakuler yang beda dari biasanya. Jalanan Sayangan yang biasanya cuma jadi tempat nongkrong, tiba-tiba berubah jadi pentas seni luar ruangan penuh energi dan semangat budaya. Bukan konser, bukan parade, tapi… Wayang Orang on The Street!
Dengan lakon epik “Sang Pinilih”, pertunjukan ini sukses menyedot perhatian warga yang datang dari berbagai penjuru Semarang. Di tengah gemerlap lampu kota, lakon klasik dari kisah Mahabharata itu tampil memukau, mengisahkan sosok Srikandi, sang prajurit perempuan tangguh yang tak takut melawan pasukan Kurawa. Bahkan, dalam pertempuran Kurusetra, Srikandi digambarkan berhasil mengalahkan Bisma – salah satu pendekar paling kuat.
Yang bikin makin meriah, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, nggak cuma hadir sebagai tamu kehormatan, tapi juga ikut main langsung di panggung! Ia memerankan tokoh Sang Hyang Wenang dengan penuh semangat, walau sempat mengaku grogi karena pakai bahasa Jawa halus.
“Untung teman-teman banyak bantu. Tadi suasananya jadi cair karena kami boleh interaksi sama penonton, bahkan bisa pakai Bahasa Indonesia juga,” ujar Agustina sambil tertawa lega usai tampil.
Kolaborasi seru ini digarap bareng Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang, sekaligus menjadi bagian dari Festival Kota Lama yang memang rutin digelar untuk menghidupkan kembali denyut budaya di pusat sejarah Semarang itu.
Buat Agustina, pagelaran ini bukan sekadar hiburan. Ia menyebut pertunjukan seperti ini bisa jadi “take off” atau titik awal buat ngebangkitin lagi kecintaan masyarakat – terutama anak muda – pada seni tradisional wayang orang.
“Wayang Orang on The Street ini jadi awalan. Pemerintah Kota Semarang siap dukung penuh agar wayang orang bisa tampil lebih sering. Bahkan kami rencanakan, 2026 nanti akan ada bantuan kostum buat semua sanggar wayang di kota ini,” katanya penuh semangat.
Harapannya, seni pertunjukan wayang bisa hidup seperti di Bali, yang selalu punya pertunjukan budaya setiap saat di berbagai titik. Gampang dicari, dan tetap digemari.
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, juga kasih apresiasi setinggi-tingginya buat acara ini. Menurutnya, wayang orang bukan sekadar seni, tapi juga sarana kuat buat menjaga nilai-nilai luhur bangsa.
“Ini bukan cuma hiburan. Ini adalah cara kita ngajarin nilai moral dan budaya buat generasi sekarang dan yang akan datang,” ujar Iswar.
Acara malam itu makin terasa magis dengan kehadiran anggota DPR RI Samuel Wattimena, yang juga dikenal sebagai desainer kawakan. Ia membuka acara dengan puisi berjudul “Puisi Pembuka”, lalu menyanyikan “Indonesia Pusaka” bareng para guru besar, dan juga lagu “Bersuka Ria” ciptaan Bung Karno. Keren abis!
Malam penuh budaya di jantung Kota Lama ini jadi bukti nyata bahwa kesenian tradisional bisa tampil kekinian. Kolaborasi antara pemkot, seniman lokal, dan masyarakat jelas jadi kunci. Semoga makin banyak anak muda yang terinspirasi dan ikut jaga warisan budaya kita, ya.(bae)

