BACAAJA, SEMARANG – Zakat fitrah selalu jadi bagian penting di akhir Ramadan. Ibadah ini bukan sekadar kewajiban, tapi juga cara umat Islam berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang membutuhkan menjelang hari raya.
Lewat zakat fitrah, setiap Muslim diajak untuk peduli pada sesama. Tujuannya jelas, supaya kaum fakir dan miskin juga bisa merasakan suasana Lebaran dengan lebih layak.
Karena itu, penting banget memahami cara membayar zakat fitrah yang benar. Bukan cuma soal jumlahnya, tapi juga bagaimana cara menyalurkannya agar sesuai dengan tuntunan syariat.
Di zaman serba digital seperti sekarang, muncul pertanyaan baru yang cukup sering dibicarakan: boleh nggak sih bayar zakat fitrah secara online?
Pertanyaan ini wajar muncul karena sekarang banyak lembaga zakat menyediakan layanan pembayaran digital. Tinggal buka aplikasi atau website, zakat sudah bisa ditunaikan tanpa harus keluar rumah.
Sebelum masuk ke soal hukum zakat fitrah online, ada baiknya memahami dulu apa sebenarnya zakat fitrah itu dalam ajaran Islam.
Zakat fitrah adalah zakat yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu. Kewajiban ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, anak-anak hingga orang dewasa.
Biasanya, zakat fitrah dibayarkan oleh kepala keluarga untuk dirinya sendiri sekaligus anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.
Kewajiban ini berlaku bagi siapa saja yang memiliki kelebihan makanan pokok untuk dirinya dan keluarganya pada malam serta hari raya Idulfitri.
Dalam sebuah hadis dijelaskan tujuan zakat fitrah sangat jelas. Rasulullah SAW bersabda bahwa zakat fitrah menjadi penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang tidak baik, sekaligus sebagai makanan bagi orang miskin.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan sering dijadikan rujukan utama dalam pembahasan zakat fitrah.
Artinya, zakat fitrah tidak hanya menyempurnakan ibadah puasa, tetapi juga punya fungsi sosial yang sangat kuat di tengah masyarakat.
Soal jumlahnya, zakat fitrah secara umum ditetapkan sebesar satu sha’ makanan pokok.
Kalau dikonversi ke ukuran yang lebih familiar sekarang, jumlah itu kira-kira setara dengan 2,5 sampai 3 kilogram bahan makanan pokok seperti beras.
Di Indonesia sendiri, praktik yang paling umum adalah membayar zakat fitrah sebanyak sekitar 2,5 kilogram beras per orang.
Namun sebagian ulama juga memperbolehkan zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk uang, selama nilainya setara dengan harga makanan pokok tersebut.
Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah waktu pembayaran zakat fitrah.
Para ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah sebenarnya sudah boleh dibayarkan sejak awal Ramadan.
Namun waktu yang paling utama adalah setelah salat Subuh pada tanggal 1 Syawal hingga sebelum salat Idulfitri dilaksanakan.
Tujuannya supaya zakat tersebut bisa langsung dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkan pada hari raya.
Lalu bagaimana dengan zakat fitrah secara online?
Secara umum, banyak ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah melalui sistem digital. Sebab yang berubah hanyalah cara penyalurannya, bukan hakikat ibadahnya.
Dalam praktiknya, pembayaran online hanya menjadi perantara transaksi saja.
Niat zakat tetap dilakukan oleh orang yang membayar zakat, sementara lembaga zakat bertugas menyalurkannya kepada para penerima.
Selama dana zakat tersebut benar-benar sampai kepada mustahik atau orang yang berhak menerimanya, maka pembayaran zakat secara online tetap dianggap sah.
Saat ini juga sudah banyak lembaga amil zakat resmi yang menyediakan layanan pembayaran digital.
Beberapa di antaranya seperti BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, hingga Lazismu.
Cara membayarnya pun cukup mudah.
Biasanya seseorang hanya perlu membuka website atau aplikasi lembaga zakat, lalu memilih menu zakat fitrah.
Setelah itu mengisi data diri, menentukan jumlah anggota keluarga yang akan dizakati, lalu memilih metode pembayaran seperti transfer bank atau dompet digital.
Setelah transaksi selesai, biasanya akan muncul bukti pembayaran atau konfirmasi bahwa zakat sudah diterima oleh lembaga tersebut.
Meski prosesnya dilakukan secara online, tetap dianjurkan untuk membaca niat zakat fitrah saat melakukan pembayaran.
Dengan begitu, niat ibadah tetap terjaga meskipun prosesnya menggunakan teknologi digital.
Pada akhirnya, zakat fitrah tetap memiliki tujuan utama yang sama sejak dulu hingga sekarang.
Yakni membersihkan diri setelah menjalani Ramadan sekaligus membantu mereka yang membutuhkan agar bisa ikut merasakan kebahagiaan di hari Idulfitri. (*)


