BACAAJA, SEMARANG – Menjalani hukuman di penjara bukan berarti warga binaan hanya menghabiskan waktu di dalam sel. Di Lapas Kelas I Semarang, mereka bisa produktif menghasilkan uang.
Kepala Lapas Semarang, Ahmad Tohari mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian di area lapas.
Selain melatih keterampilan, warga binaan juga mendapat premi atau upah sebagai bentuk penghargaan atas pekerjaan yang mereka lakukan.
“Pemberian premi ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras, kedisiplinan, dan tanggung jawab warga binaan selama mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Sebanyak 50 warga binaan menerima premi dari 17 unit kegiatan yang ada di Lapas Semarang. Mereka terlibat dalam berbagai pekerjaan, seperti produksi cotton bud, tas kulit, makanan, bakery hingga laundry.
Premi diberikan dalam bentuk tunai sebesar 10 persen dari hasil penjualan. Sebagian penghasilan juga ditabung sebagai simpanan warga binaan.
Salah satu unit yang menghasilkan premi cukup tinggi adalah bakery. Menurut pihak Lapas, hasil tersebut menunjukkan kegiatan kerja warga binaan juga memiliki nilai ekonomi.
Salah seorang warga binaan kasus narkotika, KE (38), mengaku bersyukur masih bisa mendapatkan penghasilan meski sedang menjalani hukuman 16 tahun penjara.
Ia telah enam tahun mengikuti berbagai kegiatan kerja di Lapas, mulai dari unit cotton bud, tas kulit, donat kemudian terakhir di laundry.
Penghasilan yang diterimanya digunakan untuk berbagai kebutuhan. Sebagian bahkan dikirim untuk membantu istri dan orang tuanya.
“Dibilang cukup ya cukup, Pak. Biasanya buat beli kebutuhan sehari-hari, jajan, kirim istri dan juga orang tua,” ujarnya. (bae)

