BACAAJA, SEMARANG– Malam Ramadan ke-17 di Semarang terasa sedikit beda. Bukan cuma tarawih dan peringatan Nuzulul Qur’an, tapi juga ada “rapat hati” antara pemerintah kota dan warga.
Di lapangan depan eks Wonderia, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng hadir langsung dalam agenda Tarawih Keliling sekaligus peringatan Nuzulul Qur’an tingkat kota.
Acara yang digelar Jumat (6/3) itu jadi bagian dari rangkaian Safari Ramadan Pemkot Semarang. Hadir juga Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin, jajaran Forkopimda, tokoh agama, dan warga yang datang bukan cuma buat ibadah, tapi juga silaturahmi.
Baca juga: Dorong Transportasi Hijau, Pemkot Semarang dengan Bus Masifkan Bus Listrik
Dalam sambutannya, Agustina mengingatkan bahwa Nuzulul Qur’an bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menyebut Alquran sebagai sumber kebijaksanaan yang nilainya melampaui sekat perbedaan. “Alquran ibarat mata air kebijaksanaan yang nilainya melampaui batas-batas perbedaan,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai dalam Alquran seperti keadilan, kemanusiaan, dan kasih sayang menjadi pegangan dirinya bersama Iswar dalam memimpin Kota Semarang. Ia menyebut pelayanan kepada masyarakat sebagai bentuk pengabdian sosial yang harus diwujudkan melalui kebijakan nyata, mulai dari kesehatan hingga pendidikan.
Singgung Cuaca
“Kami melayani panjenengan semua sebagai bentuk pengabdian sosial. Memastikan kebijakan hadir ketika warga sedang membutuhkan bantuan,” katanya. Namun malam itu bukan cuma soal refleksi spiritual. Agustina juga menyinggung kondisi cuaca ekstrem yang beberapa hari terakhir melanda Semarang.
Ia memberikan apresiasi kepada para petugas dari berbagai instansi seperti BPBD, Dinas PU, Damkar, hingga Dinas Perhubungan yang berjibaku menangani dampak hujan deras dan angin kencang, termasuk mengevakuasi ratusan pohon tumbang dalam waktu singkat.
“Saya membayangkan teman-teman itu pasti hampir tidak beristirahat,” ucapnya sambil mengajak masyarakat mendoakan kesehatan para petugas lapangan.
Baca juga: Pemkot Evakuasi 86 Pohon Tumbang dalam Semalam
Agustina juga mengingatkan warga soal hal sederhana tapi sering disepelekan: urusan sampah dan saluran air. Menurutnya, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bagian dari ibadah. “Yang paling sederhana memastikan saluran air tidak tersumbat. Sampah itu tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Di momentum yang sama, Pemerintah Kota Semarang juga menyerahkan bantuan 20 ribu kitab Alquran dari Yayasan Al-Fatihah. Bantuan tersebut nantinya akan didistribusikan ke masjid dan kecamatan untuk mendukung program belajar mengaji anak-anak.
Agustina menyebut program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah kota agar anak-anak Semarang terbiasa belajar Alquran saban sore. Tak hanya itu, Semarang juga tengah bersiap menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran Nasional ke-31 pada September mendatang.
Setelah menunggu hampir setengah abad, kota ini kembali dipercaya menyelenggarakan ajang MTQ nasional yang diperkirakan akan menghadirkan sekitar 11 ribu tamu dari seluruh Indonesia.
Pemkot pun mulai menyiapkan berbagai fasilitas agar para tamu nyaman sekaligus memastikan aktivitas warga tetap berjalan normal. Bahkan Agustina sempat melempar ide tambahan: lomba rebana tingkat nasional sebagai rangkaian acara.
Pada akhirnya, malam Nuzulul Qur’an di Semarang terasa seperti paket lengkap: ada doa, ada ngaji, ada apresiasi buat petugas, dan tentu saja… ada pengingat klasik yang selalu relevan. Karena kadang persoalan kota bukan cuma soal wahyu yang turun dari langit, tapi juga soal sampah yang lupa turun ke tempatnya. (tebe)


