BACAAJA, SEMARANG- Dinamika organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus kembali menunjukkan sisi lain dari dampak kebijakan penataan ormawa oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Dirjen Pendis Kemenag).
Jika sebagian organisasi masih bertahan dengan berbagai penyesuaian, kondisi berbeda justru dialami Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Esensi Fakultas Psikologi dan Kesehatan yang kini resmi vakum pada 2026.
Ketua LPM Esensi, Mirsa Aryani mengungkapkan, vakumnya organisasi bukan terjadi tanpa sebab. Salah satu persoalan utama yang dihadapi adalah kesulitan dalam mencari anggota pengurus baru, terutama saat proses open recruitment (oprek) di internal organisasi.
“Kesulitannya ada di perekrutan anggota baru. Saat oprek, minat mahasiswa untuk bergabung sangat minim,” ujarnya. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kondisi ini tidak berdiri sendiri.
Baca juga: Merger Jalan, Kaderisasi Jalan di Tempat: Persma UIN Walisongo Mulai Sepi Peminat
Ada faktor psikologis yang turut memengaruhi minat mahasiswa, yakni kekhawatiran terhadap kebijakan dari Dirjen Pendis yang mewacanakan penyederhanaan atau merger organisasi mahasiswa di tingkat fakultas.
Menurutnya, banyak mahasiswa menjadi ragu untuk bergabung karena takut organisasi yang mereka ikuti justru akan dilebur di tengah jalan. “Teman-teman itu khawatir, nanti kalau sudah join malah di-merger. Jadi mereka memilih tidak ikut dari awal,” jelas Mirsa Aryani saat di konfirmasi via WhatsApp, Kamis (2/4/2026).
Keraguan ini bahkan terlihat dari respons langsung mahasiswa baru saat diajak bergabung. Ia menuturkan, tidak sedikit yang menolak dengan alasan mencari kegiatan yang dianggap lebih pasti.
“Ada yang bilang, ‘ah nggak dulu, yang pasti-pasti aja’. Dari situ kelihatan kalau mereka punya ketakutan untuk join,” tambahnya. Selain faktor psikologis, perubahan teknis dalam proses rekrutmen juga turut memperparah kondisi.
Aryani menjelaskan, terdapat perbedaan signifikan antara pola oprek tahun 2026 dengan tahun-tahun sebelumnya, khususnya saat kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Menarik Minat
Pada tahun-tahun sebelumnya, setiap UKM diberikan ruang berupa stand khusus saat PBAK untuk mempromosikan organisasi mereka secara langsung kepada mahasiswa baru. Interaksi tatap muka ini dinilai cukup efektif untuk menarik minat dan membangun kedekatan awal.
“Dulu waktu PBAK, kita bisa buka stand, ketemu langsung sama mahasiswa baru, jelasin kegiatan, itu cukup membantu perekrutan,” ungkapnya. Namun pada 2026, pola tersebut tidak lagi diterapkan.
UKM, khususnya di tingkat fakultas, tidak diberikan kesempatan membuka stand seperti sebelumnya. Promosi organisasi hanya difasilitasi melalui media online, seperti penyebaran pamflet digital.
“Tahun ini tidak ada stand. Jadi teman-teman UKM hanya bisa promosi lewat online, seperti pamflet. Itu jelas beda dampaknya,” jelas Aryani. Keterbatasan ruang promosi ini membuat interaksi antara organisasi dan mahasiswa baru menjadi sangat minim, sehingga berdampak langsung pada rendahnya angka pendaftar.
Baca juga: Aturan Baru Ancam Eksistensi Pers Mahasiswa Fakultas UIN Walisongo
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola dalam proses kaderisasi, sekaligus tantangan baru bagi organisasi mahasiswa dalam menjangkau calon anggota di tengah keterbatasan ruang gerak.
Di sisi lain, penataan organisasi di tingkat fakultas juga mulai mengerucut. Saat ini, hanya beberapa ormawa inti yang tetap dipertahankan, seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Senat Mahasiswa Fakultas (SEMA-F), dan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMA-F).
Sebagai alternatif, fakultas berencana membentuk wadah baru berbasis minat dan bakat, yakni Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) yang akan hadir di masing-masing jurusan atau program studi.
Namun demikian, vakumnya LPM Esensi menjadi catatan penting bahwa transisi kebijakan tidak hanya berdampak pada struktur organisasi, tetapi juga pada keberanian mahasiswa untuk terlibat. Di tengah perubahan ini, tantangan terbesar bukan hanya soal menyesuaikan aturan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan mahasiswa agar tetap berani berproses dalam organisasi.
Kadang yang bikin organisasi mati bukan karena nggak ada ide, tapi karena terlalu banyak ketidakpastian. Jadi ya, sebelum ngomongin regenerasi, mungkin yang perlu dibangun dulu itu rasa yakin kalau organisasinya bakal tetap hidup. (dul)


