BACAAJA, SEMARANG- Meski langit Semarang diselimuti hujan sejak pagi, semangat generasi muda tetap panas membara. Dari Fatayat NU sampai Pemuda Katolik, dari IMM sampai Srikandi Pemuda Pancasila semua tumplek blek di Hall Balaikota buat satu tujuan: ngobrol, refleksi, dan bikin langkah bareng buat kota mereka tercinta.
Acara dibuka dengan hal yang cukup sweet, pembacaan “Surat Cinta dari Pemuda untuk Wali Kota Semarang.” Tapi jangan salah, bukan surat galau, melainkan pesan tulus soal pentingnya ruang partisipasi anak muda dalam pembangunan kota. Intinya: jangan cuma diajak foto, tapi juga diajak mikir dan bikin keputusan bareng.
Suasana makin hangat waktu perwakilan pemuda bacain surat itu dengan nada reflektif dan jujur. Setelah itu, forum berubah jadi ruang curhat kolaboratif, tempat ide-ide segar bermunculan.
Mulai dari gagasan soal penguatan ekosistem kolaborasi lintas organisasi, ekonomi kreatif berbasis komunitas, sampai ajakan buat hidupin lagi semangat gotong royong di era digital yang serba scroll cepat, lupa pelan-pelan mikir.
Pentingnya Kolaborasi
Ketua DPD KNPI Kota Semarang, Yohana Citra Mahardika bilang, kalau Hari Sumpah Pemuda harusnya bukan cuma upacara tahunan, tapi reminder bahwa kolaborasi dan aksi nyata itu harga mati.
“Dari Semarang, kita buktikan pemuda bisa berinovasi, bergerak, dan berdampak,” tegasnya. Kegiatan ini juga diisi sesi diskusi ringan tapi berbobot tentang kepemimpinan di era digital dan tantangan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Penampilan kreatif dan deklarasi komitmen bersama bikin suasana makin semarak. Sebagai penutup, Citra membacakan Pernyataan Sikap Pemuda Kota Semarang, yang isinya lima poin penting: bersatu, berkolaborasi, berinovasi, berkontribusi, dan tentu aja, berani jadi agen perubahan. Setelahnya, ruangan langsung menggema dengan yel-yel: “Semarang Bersatu, Semarang Semakin Hebat! Pemuda Bergerak!” (tebe)


