BACAAJA, DEPOK – Setelah sempat viral dan bikin publik geram, Suderajat (49), pedagang es gabus yang dituding pakai spons, akhirnya mendapat angin segar.
Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras turun langsung memberikan satu unit sepeda motor dan bantuan modal usaha buat Suderajat.
Bantuan itu diserahkan langsung di rumah Suderajat di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Bacaaja: Es Gabus Sudah Aman, Tapi Trauma Masih Nempel
Bacaaja: Demo Minta Penetapan Bencana Nasional di Aceh Pecah, Massa Dibubarkan Paksa Aparat
Abdul Waras berharap bantuan ini bisa jadi titik balik agar Suderajat bisa bangkit dan kembali berjualan.
“Kami hadir untuk sedikit membantu beliau. Mudah-mudahan motor dan modal ini bermanfaat untuk usaha beliau ke depan,” ujar Abdul Waras.
Meski lokasi kejadian berada di luar wilayah hukum Polres Metro Depok, Abdul Waras menegaskan Suderajat adalah warganya.
Sementara untuk proses hukum kasus dugaan penganiayaan, penanganannya diserahkan ke Polres Jakarta Pusat.
“Beliau warga kami di wilayah hukum Polres Metro Depok. Untuk penanganan perkaranya, itu menjadi kewenangan Polres Jakarta Pusat,” jelasnya.
Masih trauma setelah dianiaya
Di sisi lain, Suderajat tak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya.
Ia mengaku ingin kembali berjualan es gabus demi menghidupi keluarga. Namun, trauma masih membekas.
“Saya mau dagang lagi, tapi jujur masih takut kejadian kemarin terulang,” ungkapnya lirih.
Kisah Suderajat sempat viral setelah ia diduga dianiaya oknum aparat dan dagangannya dirusak. Publik pun ramai-ramai memberi dukungan.
Insiden yang menimpa pria yang akrab disapa Ajat itu terjadi di Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).
Ajat cerita, awalnya situasi biasa aja—sampai ada anak kecil beli es gabus darinya. Setelah itu, datang oknum bhabinkamtibmas dan babinsa yang langsung mengintimidasi tanpa banyak tanya.
Ajat mengaku es gabus dagangannya diremas-remas, lalu dilempar ke arah wajahnya. Perlakuan itu nggak berhenti di situ.
Ia juga mengaku mendapat kekerasan fisik hingga mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuh.
Peristiwa ini langsung viral dan bikin warganet geram. Banyak yang mempertanyakan cara aparat menangani dugaan pelanggaran, apalagi yang jadi sasaran adalah pedagang kecil yang lagi cari makan.
Kasus ini pun jadi pengingat: penegakan aturan seharusnya tetap pakai empati, bukan intimidasi.
Kini, dengan bantuan motor dan modal usaha, harapannya Suderajat bisa pelan-pelan bangkit, meski rasa takut itu belum sepenuhnya hilang. (*)


