BACAAJA, SEMARANG- Banjir yang terus berulang di Kota Semarang dinilai bukan sekadar soal hujan deras. Pakar lingkungan dan tata kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Mila Karmila, menilai masalahnya lebih dalam.
Menurutnya, penanganan banjir harus mulai dibereskan dari hulu, bukan sibuk di hilir saat air sudah naik. Mila menyebut, secara nasional hingga Jawa Tengah, potensi hujan masih tinggi sampai Februari.
Informasi ini bukan hal baru. Artinya, pemerintah seharusnya sudah punya waktu cukup untuk bersiap. “Harusnya sudah ada antisipasi sejak awal. Bukan menunggu hujan besar dulu baru bergerak,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Tiga Orang Meninggal karena Banjir Semarang
Antisipasi mendesak dilakukan, terutama untuk kawasan perkotaan yang daya tampung airnya makin terbatas. Di Semarang, persoalan banjir juga kerap diperparah oleh rob. Air laut yang masuk ke daratan membuat genangan makin lama surut. Kombinasi hujan deras dan rob ini, kata Mila, seharusnya jadi perhatian serius.
Ia menyoroti minimnya upaya pencegahan di lapangan. Mila mengaku jarang melihat pengerukan sedimentasi atau pembersihan drainase secara masif. Kondisi ini dikhawatirkan membuat penanganan banjir selalu terlambat. Pemerintah baru sibuk setelah air meluap. Padahal, banjir sudah bisa diprediksi sejak jauh hari.
Akar Masalah
“Yang terjadi itu lebih ke kuratif. Pompa dinyalakan, bantuan dibagikan, dapur umum dibuka. Tapi akar masalahnya tidak pernah selesai,” kata Mila. Menurutnya, antisipasi harus dilakukan rutin. Saluran drainase dibersihkan, sedimentasi dikeruk, pompa dicek sebelum hujan ekstrem datang. Bukan saat warga sudah kebanjiran.
Selain itu, Mila juga menyoroti tata ruang kota. Ia menilai ruang terbuka hijau (RTH) di Semarang banyak mengalami perubahan fungsi. Padahal, RTH punya peran penting sebagai daerah resapan air. Ia menjelaskan, ruang hijau tidak harus terpusat di kota. RTH bisa dioptimalkan hingga tingkat kelurahan dan kecamatan. Dengan begitu, air hujan tidak langsung mengalir ke jalan dan saluran utama.
Baca juga: BNPB Ngegas Operasi Modifikasi Cuaca, Atasi Banjir Semarang–Grobogan
“Kalau ruang terbuka hijau masuk ke permukiman, genangan bisa dikurangi,” ujarnya. Hal ini juga perlu dibarengi regulasi tegas soal pembangunan di kawasan rawan banjir. Genangan di pusat kota pun ikut disorot. Simpang Lima, misalnya, kerap tergenang meski hujan tidak terlalu lama. Menurut Mila, ini menandakan ada masalah dalam sistem drainase dan perawatannya.
Dampak banjir, lanjut Mila, selalu berujung ke warga. Jalan macet, kendaraan rusak, biaya tambahan harus dikeluarkan. Warga dipaksa terus beradaptasi dengan kondisi yang berulang. Di sisi lain, anggaran pemerintah pun tersedot untuk penanganan darurat. Dana yang seharusnya bisa dipakai untuk program lain, habis untuk bansos dan penanganan banjir.
Menurut Mila, jika perawatan drainase dan penataan kota dilakukan serius dan konsisten dari hulu, potensi banjir bisa ditekan. Bukan dihilangkan sepenuhnya, tapi setidaknya tidak selalu separah sekarang. (bae)

