BACAAJA, KUDUS- Urusan sekolah lima hari atau enam hari lagi-lagi comeback kayak tren Y2K. Pemprov Jawa Tengah belum mau buru-buru ambil sikap. Sekda Jateng, Sumarno, bilang wacana “balik ke enam hari sekolah” masih dalam tahap dipikirin banget, sambil nampung masukan dari berbagai pihak.
“Masih dikaji untuk ide enam hari sekolah,” ujar Sumarno di sela Milad ke-113 Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Kudus, Sabtu (22/11). Pemprov, katanya, nggak mau gegabah. Setiap persoalan pendidikan, mulai dari kurikulum, ritme belajar, sampai jam istirahat anak, itu pasti langsung masuk meja evaluasi.
Muncul Lagi
Sebelumnya, Wagub Taj Yasin atau Gus Yasin sempat buka alasan kenapa wacana ini muncul lagi. Ternyata, kebijakan lima hari sekolah yang niatnya biar anak punya waktu quality time bareng keluarga… malah jadi bolong.
Orang tua banyak yang kerja enam sampai tujuh hari seminggu, sementara anak liburnya dua hari. “Dengan kebijakan lima hari sekolah, ada dua hari libur anak. Maka ada satu hari yang tanpa pengawasan,” katanya.
Makanya, Pemprov Jateng di era Ahmad Luthfi-Taj Yasin lagi nyari formulanya: gimana anak terlindungi, nggak keluyuran, tetap punya waktu tumbuh, tapi sekolah juga nggak bikin burnout. Kembalinya enam hari sekolah dianggap bisa jadi opsi, tapi tetap musti lewat kajian para pakar, kampus, dan dewan.
Kalaupun nanti diberlakukan, kebijakan itu cuma buat SMA/SMK yang memang jadi wewenang provinsi. Jadi jangan panik dulu, masih sebatas wacana, bukan pengumuman resmi. (tebe)


