BACAAJA, SEMARANG – Soegijapranata Catholic University (SCU) alias Unika dan Semarang Zoo teken perjanjian kerja sama yang intinya sepakat jalan bareng di jalur konservasi satwa.
Rektor SCU, Robertus Setiawan Aji Nugroho bilang, kerja sama ini punya arti penting buat kampus.
“Kolaborasi ini sangat penting bagi kami sebagai wujud dari keutamaan yang kami angkat talenta untuk bangsa dan kemanusiaan,” ujarnya.
Sejak awal berdiri, SCU memang udah konsisten ngegas isu lingkungan dan keberlanjutan. Bedanya, kali ini mereka masuk ranah satwa.
“Selama ini, kami sudah menjalin berbagai kerja sama dengan berbagai institusi terkait konservasi baik alam maupun budaya,” ungkapnya.
Barengan Semarang Zoo, SCU melihat peluang untuk bikin ruang belajar baru bagi mahasiswanya. Bukan cuma teori di kelas, tapi juga praktik konservasi, edukasi, sampai rekreasi. Dari riset lingkungan, pangan, bisnis, komunikasi visual, sampai asesmen psikologi buat pegawai kebun binatang.
Direktur Semarang Zoo Bimo Wahyu Widodo menekankan bahwa konservasi satwa bukan cuma soal kasih makan atau bikin kandang yang nyaman. Ada tanggung jawab menjaga kemurnian jenis, menghindari perkawinan sedarah, bahkan melepasliarkan satwa ke alam liar atau menukarnya dengan lembaga konservasi lain.
“Lembaga konservasi juga bertanggung jawab untuk menjaga kemurnian jenis dan menghindari perkawinan sedarah,” tegasnya, Selasa (16/9/2025).
Untuk standar perawatan, Semarang Zoo tetap pegang teguh prinsip five freedoms: bebas lapar dan haus, bebas stres, bebas berkembang biak, bebas sakit, dan bebas berekspresi kayak di alam liar.
“Nah, tantangan beratnya ini, setelah berkembangbiak harus ditukar agar tidak kawin sedarah, atau dilepasliarkan,” pungkas Bimo. (bae)


