Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah

Redaktur Opini
Last updated: Maret 30, 2026 4:13 pm
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Merita Dewi, alumnus Universitas Riau. Tinggal di Dumai.

Tidak logis rasanya mengharapkan sosok pasangan sesuai kehendak kita seutuhnya.

 

Memasuki tahun ketiga usia pernikahan kami, apresiasi setinggi-tingginya kepada kami berdua karena masih terus optimis membangun rumah tangga impian. Sampai saat ini kami berdua masih terus menyelami proses saling mengenal dan mengupayakan ‘kenyamanan’ satu sama lain.

Kata kebanyakan orang, di usia pernikahan yang masih seumur jagung ini, ujian yang kami rasakan belum ada apa-apanya. Belum merasakan pahitnya kehidupan rumah tangga. Pun tidak banyak pencapaian materi yang terlihat dan mampu kami banggakan kepada banyak orang.

Jika melihat dari sudut pandang saya sendiri, tiap orang pasti mengalami ujiannya masing-masing. Baik itu mereka yang belum menikah, baru menikah, atau pun bagi yang sudah lama menikah. Kadar masalahnya saja yang mungkin berbeda-beda.

Memang usia pernikahan kami masih terlalu dini, tetapi cukuplah sebagai bahan refleksi kecil-kecilan. Terutama saat masa-masa awal menikah. Meski sebelumnya sudah saling mengenal, tetapi baik saya maupun suami tetap saja mengalami culture shock sebab baru benar-benar tahu kebiasaan masing-masing.

Terlebih bagi saya sendiri sebagai seorang istri. Saya anak tunggal di keluarga yang jarang sekali memiliki kesibukan di dapur, kemudian kuliah lalu bekerja. Juga lebih sering membeli makanan ketimbang memasak sendiri. Jangan tanya kemampuan memasak saya. Benar-benar jauh di bawah rata-rata.

Sementaramenurut suami, memasak adalah kemampuan yang bisa dipelajari pelan-pelan. Bukan bakat yang melekat pada seseorang sejak lahir. Di zaman sekarang, mudah saja tinggal lihat resep di internet. Jadilah sekarang saya selalu memasak untuk suami dan anak. Setiap pagi dan malam hari. Sesekali juga pernah beli atau makan di luar rumah. Kesibukan yang sebelumnya sangat jarang saya lakukan, sekarang malah menjadi kebiasaan rutin.

Untuk saya pribadi, hal ini merupakan bentuk kekurangan diri tetapi suami justru menerima dan menemani saya untuk berbenah. Jujur, itu menerbitkan kebahagiaan tersendiri. Lain halnya dengan suami. Ia mempunyai hobi bermain voli dan game. Saya kerap diabaikan dan rasanya seperti disaingi hobinya tersebut. Namun, lambat laun saya berusaha memahami bahwa ia pun membutuhkan hiburan untuk menyegarkan kembali pikiran setelah penat bekerja.

Terlepas dari hobinya itu, suami ternyata tak segan membantu banyak pekerjaan di rumah, seperti mencuci piring dan pakaian, dan menyapu lantai rumah. Hal-hal kecil semacam itu sungguh sangat menyenangkan bagi para kaum perempuan.

Alhasil kini terbentuklah mindset di kepala saya: selagi masih rajin bekerja dengan setoran bulanan ke saya lancar, ibadah wajib tidak tertinggal, perasaan-perasaan yang rasanya tidak perlu itu saya minimalisir.

Tidak logis rasanya mengharapkan sosok suami sesuai kehendak kita seutuhnya. Begitu pun sebaliknya. Barangkali ada sisi-sisi yang tidak diinginkan suami pada diri saya, tetapi ia memaklumi saya tanpa perlu diutarakan.

Pernah suatu hari terjadi perdebatan kecil seusai kami makan bersama. Suami tiba-tiba menegur saya dengan suara meninggi lantaran saya mencuci tangan di bekas piring makan saya. Ternyata ia tidak suka melihat hal tersebut dan mengaku jijik. Saya pun terkejut bukan main. Saya merasa tidak melakukan kesalahan, dan yang nantinya mengemasi piring-piring kotor itu dan lalu mencucinya juga saya sendiri.

Tentu saja saya tidak terima dibentak seperti itu. Perbuatan itu menurut saya tidak ada salahnya. Lantas tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada suami, saya jelaskan bahwa saya belum ada sebulan tinggal satu atap dengannya. Mana saya tahu secara menyeluruh hal-hal yang disukai maupun tidak disukai olehnya.

Sekalipun hal yang saya lakukan pertama kali di hadapannya itu salah, haruskah dia menghardik saya begitu kerasnya? Tidak bisakah memberi tahu dengan cara baik-baik? Toh saya bukan tipe orang yang bebal betul untuk dinasehati. Suami pun terdiam, seolah menyadari perbuatannya juga tidak bisa dibenarkan. Untuk selanjutnya, saya tidak pernah melakukan hal semacam itu lagi.

Ada lagi sebuah kebiasaan sebelum menikah yang saya lakukan. Setiap bulannya saya menyisihkan sedikit dari gaji saya untuk diberikan kepada orang tua mengingat mereka yang sudah semakin tua dan tenaga mereka untuk bekerja tidak sekuat dulu lagi. Intinya sebagai salah satu bentuk bakti anak yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan dan pengorbanan mereka.

Setelah menikah dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi, suami saya ternyata bersedia dan tidak keberatan menyisihkan dari gajinya setiap bulan untuk dikirimkan ke orang tua saya. Tidak banyak, tetapi cukuplah untuk membantu sedikit kebutuhan hidup sehari-hari orang tua. Tentu saja hal itu dilakukan setelah kebutuhan kami berdua tercukupi.

Untuk kedua orang tuanya sendiri pun, suami juga sering memberikan sebagian dari penghasilannya. Selain itu, ia juga membantu biaya kuliah dari adik perempuannya. Saya tidak mempermasalahkan hal-hal demikian selama itu dikomunikasikan dengan baik. Meskipun yang bekerja dan berpenghasilan itu murni hanya suami, sebagai istri saya merasa perlu tahu ke mana saja uang itu dialokasikan. Untungnya kami sepaham terkait persoalan keuangan ini.

Alhamdulillah, penghasilan dari pekerjaan suami cukup untuk memenuhi itu semua termasuk tabungan dan untuk dana darurat. Sebagai istri, tak hentinya saya mendoakan supaya rezeki keluarga kami selalu lancar dan mengalir deras.

Poin penting yang sama-sama kami tanamkan sejak awal menikah adalah jika ada yang tidak sesuai sebaiknya segera dikomunikasikan. Kemudian tidak bosan dan terus belajar untuk menjadi suami juga istri yang lebih baik lagi. Tidak lupa juga untuk saling mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan pasangan, karena dengan begitu baik suami maupun istri akan merasa dihargai.

Pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Masih banyak kelokan dan kerikil tajam menghadang. Tidak ada cara lain untuk bertahan, selain saling memahami, saling menjaga komunikasi, saling kerja sama. Semoga kami senantiasa berbesar hati untuk menerima segala kekurangan. (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Berburu Lailatul Qadr

Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah

Mencari “Pangku” di Kamus-Kamus Lama

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Lorong Pocong dan Boneka Gantung, Menyibak Museum Santet

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah

Lorong Pocong dan Boneka Gantung, Menyibak Museum Santet

Tips Agar Tidak Terjebak Gogle Maps yang Ngaco

Lari Trail Berujung Duka, Peserta Tumbang di Sentul

Bisnis Baru, Titip Nyekar Online Jadi Tren, Jasa Ini Bikin Haru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional

Maret 6, 2026
Opini

Banjarnegara di Atas Lereng Rapuh: Saatnya Serius Mengelola Ekosistem Sebelum Longsor Kembali Menelan Korban

Desember 29, 2025
Opini

Tidak Seharusnya Logat “Lo-Gue” Menjadi Superior dalam Pergaulan, Apalagi Ini di Semarang

Januari 29, 2026
Opini

Lelaki Miskin, Kenapa Lagi?

November 12, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?