Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Redaktur Opini
Last updated: Januari 22, 2026 8:29 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Ahmad Rofiul Khoir adalah mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UIN Walisongo Semarang.

Saya tidak ingin meromantisasi kemiskinan. Miskin itu tidak keren. Miskin itu menyiksa. Miskin itu membatasi pilihan hidup. Namun, saya kira kemiskinan yang paling berbahaya bukan secara material, melainkan mental.

 

“Siapa yang akan menyelamatkan orang miskin di Republik ini? Pemerintah? Jangan bercanda! Mereka sibuk ngurus proyek.”

Saya punya teman bernama Acak. Dia jualan cilok keliling di kampung saya. Motornya sudah tua, cat mengelupas, suara mesin seperti batuk kronik, penghasilannya pas-pasan. Tapi setiap kali saya bertemu, dia selalu sumringah dan punya cerita lucu.

Suatu hari saya menemuinya sedang jongkok di pinggir jalan, ngutak-atik mesin motornya yang mogok. Gerobak ciloknya terparkir miring. Dia berusaha perbaiki motor yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi itu.

“Motornya kenapa, Cak?” tanyaku sambil berhenti.

“Mogok, cuk. Bajingan! Dari tadi saya rayu pakai macem-macem bahasa. Indonesia, Jawa, bahkan bahasa Inggris. ‘Please, baby please!’ Tetep aja zonk. Kayaknya motor ini lagi PMS, sensitif banget hari ini,” jawabnya sambil tertawa.

“Lah, kok ketawa? Motor rusak gini. Ciloknya masih banyak. Hujan lagi. Masih bisa ketawa?”

“Lha terus kalau nangis, motornya bisa langsung nyala? Upgrade jadi Harley? Enggak kan? Ya, udah. Mending ketawa. Gratis kok.”

Acak menyadari bahwa dia tidak bisa mengontrol sistem ekonomi yang timpang. Ia sadar tidak bisa mengubah fakta. Penghasilannya yang pas-pasan belum cukup untuk memperbaiki motor tuanya, apalagi beli motor baru. Ia juga tidak bisa berharap orang tuanya ternyata konglomerat yang sedang menyamar jadi orang miskin. Terus besok pagi dia diangkat jadi CEO seperti di drama Cina yang plotnya nggak masuk akal.

Realita Acak tentu  sangat jauh dari fantasi tersebut. Tapi dia punya satu kekuatan yang tidak bisa dirampas siapa pun dengan mengontrol responsnya. Dia memilih untuk tidak membiarkan kemiskinan menggerogoti kewarasannya.

Bukan berarti tidak serius menghadapinya. Justru karena terlalu serius, kita butuh humor untuk tetap waras. Humor adalah mekanisme pertahanan psikologis. Humor adalah cara kita bilang ke kemiskinan kalua “Kamu boleh renggut harta bendaku, tapi kamu tidak bisa mengambil kebahagiaanku dan kemanusiaanku.”

Martin Seligman, tokoh tersohor dalam aliran positive psychology menyebutkan humor sebagai salah satu character strength yang membantu kita mencapai well-being bahkan dalam kondisi sulit. Orang yang bisa tertawa di tengah kesulitan cenderung lebih resilient, lebih mampu bangkit dari keterpurukan (Tanjung et al., 2023)

Saya tidak ingin meromantisasi kemiskinan. Miskin itu tidak keren. Miskin itu menyiksa. Miskin itu membatasi pilihan hidup. Namun, saya kira kemiskinan yang paling berbahaya bukan secara material, melainkan mental. Ketika kita hanya overthinking, mengeluh, tidak punya harapan, tidak percaya bahwa hidup bisa berubah, di situlah kemiskinan benar-benar menang.

Para psikolog kognitif menyebutnya rumination, yaitu proses berpikir berulang tentang hal negatif tanpa mencari solusi. Rumination terbukti meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Artinya, semakin kita mengeluh, semakin kita merusak kesehatan mental kita sendiri (Malini, 2023)

Sistem memang timpang. Struktur ekonomi memang tidak adil. Tapi sementara kita menunggu revolusi sosial yang entah kapan datangnya, kita tetap harus bertahan hidup hari ini. Cara kita merespons dan bertahan secara mental menentukan apakah kita akan survive, atau tetap tenggelam dalam jurang kemiskinan struktural yang sangat menyiksa ini.

Saya kira orang yang masih bisa tertawa di tengah kesulitan adalah orang yang paling berbahaya bagi sistem penindasan. Karena sistem penindasan butuh korban yang patuh, lemah, dan putus asa. Tapi orang yang masih bisa tertawa, bahkan mengejek dirinya sendiri sambil vokal sinis ke pejabat, adalah mereka tidak bisa dikontrol sepenuhnya.

Lalu bagaimana cara menertawakan kemiskinan secara praktis?

Bisa dimulai dari berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial adalah pabrik pembuat rasa minder. Sederhananya, media sosial selalu membuat kita merasa kurang dibandingkan orang lain. Semua orang pamer liburan, pamer kemegahan, pamer kehidupan sempurna alih-alih self-rewards. Jangan percaya! Itu semua ilusi!

Selanjutnya, cari komunitas yang sama-sama struggle tapi tidak toxic. Cari teman yang bisa diajak tertawa bareng, bukan kompetisi siapa yang paling menderita.

Jika kau orang yang suka humor, buatlah joke tentang situasimu sendiri. Kalau kamu bisa meledek diri sendiri, orang lain tidak bisa merendahkanmu. Kamu sudah duluan rendahin diri sendiri, tapi dengan cara yang membuat dirimu berdaya (empowering), bukan yang meratapi nasib/mengasihani diri sendiri (self-pity).

Terakhir, barangkali terkesan agak klise, tapi baiklah harus kita akui kita semua harus tetap berusaha. Tapi jangan terlalu serius sampai stres. Memutus rantai kemiskinan memang berat. Kalau ditambah serius melulu, kita malah cepat burnout. Kerja keras, iya. Tapi jangan lupa bersantai dan tetap tertawa.

Kemiskinan itu realitas material yang keras. Tapi penderitaan adalah konstruksi mental. Kita bisa miskin tapi tidak menderita. Kita bisa miskin tapi tetap bahagia. Kita bisa miskin tapi tetap bermartabat.

Tentu kita harus tetap fight untuk keadilan ekonomi. Tetap kritik pemerintah yang korup. Tetap perjuangkan hak-hak dasar kita sebagai warga sipil. Tapi sambil kita tetap fight. Jangan lupa tertawa. Karena perjuangan tanpa tawa adalah jalan menuju kegilaan.

Mari kita tertawakan kemiskinan sampai mereka yang membuat kita menderita lelah sendiri. Mari kita buktikan bahwa kita lebih keras kepala daripada nasib buruk.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Cara Terbaik Seorang Istri Memahami Suami yang Hobi Memancing

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal
Next Article Direktur LBH Semarang, Syamsuddin Arief (pegang mik) paparan tentang kerja-kerja advokasi organisasinya, Rabu (21/1/2026). (bae) Curhat LBH Semarang: Katanya Jateng Mau Jadi Lumbung Pangan, Kok Kriminalisasi Petani

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Keseruan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Selasa (10/2/2026). Acara seperti ini menjadi langkah penting untuk sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak-anak di Jawa Tengah.

Bank BJB, Telkomsel, Larissa, hingga Uncle Bao Dukung Bacaaja ‘Meet & Greet Densus’ di SMAN 6 Semarang

Bukan Cuma Kolesterol: CKG Kini Urus Scabies sampai Kusta

Siswa SMAN 6 Semarang, Khansareta Prayunita menjelaskan kesannya ikut Meet & Greet Densus di sekolahnya, Selasa (10/2/2026). (bae)

Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus

Mantan Bupati Purworejo, Agus Bastian (batik hijau) dan tiga orang lain bersaksi di sidang korupsi BPR Purworejo, Selasa (10/2/2026). (bae)

Mantan Bupati Purworejo Dicecar Soal BPR saat Jadi Saksi Sidang Korupsi di Semarang

COO bacaaja.co, Puji Utami, menyebut media punya kewajib mengedukasi pelajar agar tak terpapar radikalisme.

COO Bacaaja: Media Berperan Edukasi Pelajar, Cegah Mereka Tak Terpapar Terorisme

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Bagaimana Orang Jawa Mengungkapkan Rasa Cinta

Desember 22, 2025
Opini

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Desember 17, 2025
Opini

Bersama-sama Tapi Sendiri

November 19, 2025
Opini

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Januari 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?