SEMARANG, BACAAJA — Puisi yang sampai ke meja redaksi biasanya tidak datang dalam keadaan kosong.
Ia membawa banyak hal: nama penulis, latar belakang, bahkan kadang bisik-bisik soal “orang dalam”. Tapi di situlah, menurut Triyanto Triwikromo, puisi justru harus dilepaskan dari semua embel-embel itu.
Saat menjadi redaktur sastra Suara Merdeka, Trianto memilih satu sikap sederhana: membaca teksnya dulu, melupakan siapa penulisnya.
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Bacaaja: Ketika AI Ikut Nulis, Sastra Masih Perlu Manusia? Simak Kata Sastrawan Semarang
Nama besar atau nama baru, penyair lokal atau luar daerah, semua diperlakukan sama. Yang dipertimbangkan hanya satu puisi itu bekerja atau tidak.
Prinsip itu membuat meja redaksi tidak selalu jadi tempat yang menyenangkan. Kritik datang dari berbagai arah. Ada yang merasa puisinya layak dimuat karena sudah lama menulis.
Ada juga yang kecewa karena merasa satu daerah tidak diberi cukup ruang. Tapi bagi Triyanto, redaksi bukan panggung solidaritas, melainkan arena seleksi.
Ia mengaku tidak pernah berniat menutup pintu bagi penyair Jawa Tengah atau Semarang. Banyak puisi dari daerah ini tetap dimuat.
Masalahnya sederhana: tidak semua naskah siap tampil. Dan tidak semua penulis siap mendengar itu.
Di redaksi, puisi bukan soal curhat. Puisi adalah hasil kerja. Ia harus punya daya, punya tekanan, dan punya kebaruan.
Kalau lemah, ya dikembalikan. Kalau belum matang, ya ditolak. Triyanto menyebut sikap ini sebagai bagian dari pendidikan mental penyair.
Proses saling kritik itu justru membentuk ekosistem sastra yang lebih sehat. Penyair belajar bahwa menulis bukan soal diterima atau tidak hari ini, tapi tentang bagaimana teks terus diperbaiki.
Meja redaksi, dalam pandangan Mas Tri, seharusnya menjadi tempat latihan bukan tempat mencari pengakuan instan.
Cara pandang itu juga ia bawa ketika memilih karya. Ia tidak ingin redaksi hanya diisi suara yang itu-itu saja. Dunia sastra, menurutnya, harus diajak bertanding lebih luas.
Puisi dari mana pun bisa masuk, asal kuat. Dengan cara itu, redaksi menjadi ruang pertemuan ide, bukan sekadar kumpulan nama.
Di titik ini, puisi dan redaksi saling membutuhkan. Puisi perlu redaksi agar diuji. Redaksi perlu puisi agar tetap hidup. Hubungannya tidak selalu manis, tapi jujur.
Dan barangkali, justru dari ketegangan itulah puisi menemukan bentuk terbaiknya. (dul)


