Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Program Bergizi, Rasa Beracun? Ombudsman Ungkap Fakta MBG
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Program Bergizi, Rasa Beracun? Ombudsman Ungkap Fakta MBG

Temuan Ombudsman ini seakan jadi alarm keras bagi pemerintah. Jika masalah dibiarkan, Program MBG bukan lagi jadi solusi, tapi bisa berubah jadi sumber masalah baru di dunia pendidikan.

Nugroho P.
Last updated: Oktober 2, 2025 11:06 am
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Makan Bergizi Gratis.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang awalnya digadang-gadang sebagai terobosan untuk meningkatkan gizi anak sekolah, kini justru ramai dikritik. Ombudsman RI mengungkap sederet persoalan serius, mulai dari bahan pangan yang tak sesuai kontrak, dapur yang belum punya standar jelas, distribusi berantakan, sampai pengawasan yang lemah.

Ironisnya, meski pemerintah sudah bayar mahal untuk memastikan anak-anak dapat makanan terbaik, kenyataannya yang sampai ke meja siswa sering kali jauh dari kata ideal.

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, memaparkan masih banyak dapur umum atau Satuan Pendidikan Pelaksana Gizi (SPPG) yang menerima pasokan sayuran layu, lauk tak lengkap, bahkan beras dengan kualitas di bawah kontrak.

“Negara bayar premium, tapi kualitas yang diterima anak-anak belum sepadan. Ada dapur terima sayuran nggak segar, lauk nggak lengkap, dan itu semua terjadi karena belum ada standar acceptance quality limit yang jelas,” kata Yeka saat konferensi pers, Selasa (30/9/2025).

Masalah lain muncul di tahap pengolahan. Standar keamanan pangan yang seharusnya jadi benteng—seperti HACCP—ternyata belum dijalankan dengan disiplin. Beberapa SPPG bahkan nggak punya catatan suhu atau retained sample yang jadi syarat penting untuk kontrol mutu.

Situasi makin runyam karena BPOM yang mestinya memegang 13 indikator pengawasan dianggap belum maksimal. Buktinya, sampai Mei 2025 sudah tercatat 17 kasus keracunan luar biasa terkait program ini.

“Adanya 17 KLB keracunan sampai pertengahan tahun ini jadi alarm keras. Prosedur pengolahan harus diperbaiki dan dijalankan ketat,” tegas Yeka.

Kisruh nggak berhenti di bahan dan dapur. Dalam tahap persiapan, Ombudsman menemukan kasus kontrak yang dilanggar. Contohnya di Bogor, kontrak menyebut beras premium, tapi yang datang justru beras medium dengan kadar patah tinggi.

Distribusi juga penuh masalah. Aturan holding time empat jam yang harusnya menjaga makanan tetap aman sering diabaikan. Di Bangka Belitung, distribusi malah sempat berhenti dua minggu tanpa pemberitahuan, bikin sekolah kelimpungan.

Para guru pun ikut ketiban beban jadi “kurir dadakan” untuk membagikan makanan, padahal nggak ada dukungan tambahan dari pemerintah.

Ombudsman juga menyoroti lemahnya pemanfaatan teknologi. Dashboard BGN yang diharapkan bisa memantau jalannya program ternyata masih jauh dari harapan. Data soal kualitas bahan, jadwal distribusi, hingga laporan insiden keracunan belum bisa diakses secara real time.

Belum lagi masalah anggaran. Skema ad cost yang belum punya juknis rinci membuka ruang abu-abu dalam penggunaan dana.

Akibat kelemahan tata kelola ini, kasus keracunan makin menumpuk. Ombudsman mencatat sepanjang Januari-September 2025, ada 34 KLB dengan ribuan korban, sebagian besar anak sekolah penerima MBG.

Beberapa kasus besar bahkan jadi sorotan nasional. Di Garut, 657 siswa jatuh sakit usai makan nasi kotak MBG. Di Kulon Progo, 497 siswa mengalami hal serupa. Kasus terparah tercatat di Bandung Barat, ketika 1.333 siswa harus dirawat medis karena makanan terlambat sampai dan tak higienis.

Kasus lain menimpa 539 siswa di Lebong, Bengkulu, serta 276 siswa di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, yang keracunan akibat ikan tercemar.

Melihat kondisi ini, Yeka menekankan perlunya pembenahan menyeluruh. Standar pangan ketat, distribusi disiplin, dan pengawasan berlapis jadi kunci agar program ini tidak lagi memakan korban.

Menurutnya, MBG memang punya tujuan mulia: membangun generasi yang sehat dan cerdas lewat gizi yang baik. Tapi kalau tata kelola terus berantakan, niat baik itu bisa berubah jadi ancaman bagi kesehatan anak-anak.

Temuan Ombudsman ini seakan jadi alarm keras bagi pemerintah. Jika masalah dibiarkan, Program MBG bukan lagi jadi solusi, tapi bisa berubah jadi sumber masalah baru di dunia pendidikan. (*)

You Might Also Like

Wali Kota Lempar Tantangan: “Yuk Bikin Board Game Rasa Semarang”

‘Obah Bareng Klaten’ Bahas Hak Anak dengan Cara Seru

Libur Udah, PSIS Gaspol Lagi, Persipal Siap Jadi Ujian Awal

M Saleh Dorong Kompetisi Judo Rutin Digelar: Pembinaan & Nyari Bibit

PSIS Kunci Skuad: Thaufan-Kristof Jadi Puzzle Terakhir

TAGGED:dapur MBGkeracunan massalkeracunan MBGMBGOmbudsman RIsppg
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Petugas berupaya memadamkan api pada peristiwa kebakaran kilang minyak Pertamina di Dumai, Riau. Kilang Minyak Pertamina di Dumai Terbakar, Diserta Suara Ledakan Dahsyat
Next Article Keren, Bocah SMA Cilacap Ini Temukan Inovasi Ompreng Pendeteksi Keracunan MBG

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Tengah, Haryono Agus Setiawan. (bae)

Fakta Jaringan Love Scamming di Semarang, Izin Tinggal 4 WNA China Kedaluwarsa

LAYANI PELANGGAN - Pelaku usaha fotokopi di Ngaliyan, Semarang, sedang melayani pelanggan. Mereka mengaku empot-empotan menghadapi harga kertas yang terus melambung tinggi, dampak melemahnya rupiah. (dul)

Harga Kertas Melambung Tinggi, Pelaku Usaha Fotokopi Ketar-ketir

KETUA PERADI SAI SEMARANG - Ketua DPC Peradi SAI Kota Semarang, Luhut Sagala (tengah) mengumumkan perubahan nama dan logo organisasi dalam acara buka bersama anggota di Aroem Resto Semarang, Selasa (3/3/2026). (bae)

Luhut Sagala Kembali Pimpin Peradi SAI Kota Semarang, Ini Fokus Agenda Kerjanya

ROKOK - Ilustrasi produk turunan tembakau berupa rokok.

Harga Rokok Ikut Terkerek Naik Meski Tak Ada Penyesuaian Tarif Cukai

KANTONG PLASTIK - Ilustrasi pedagang memasukkan barang yang dibeli pelanggan ke dalam kantong plastik.

Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Gak Ada Gebrakan, UMP Jateng 2026 Masih akan Jadi Terendah Nasional?

Desember 18, 2025
Sepak Bola

36 Tim Ikuti Turnamen Sepak Bola Soekarno Cup 2025

Juni 12, 2025
Motor dengan gaya trail, Emmo JVX GT, menjadi salah satu kendaraan untuk BGN.
Viral

Motor MBG Disorot, Istana Bilang Begini

April 8, 2026
Hukum

Muhadjir Effendi Diperiksa KPK

Mei 19, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Program Bergizi, Rasa Beracun? Ombudsman Ungkap Fakta MBG
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?