Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.
Begitu banyak orang bisa hidup dari rasa iba terhadap orang lain. Contoh paling dekat: para pengemis lampu merah!
Terus terang, saya belum pernah melihat mantan presiden Jokowi berpidato seperti yang diucapkan di depan Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar, 29 – 31 Januari 2026. Biasanya, pidatonya tenang. Terjaga. Bahkan ketika ia marah, suaranya tidak meninggi dan meledak-ledak. Sorot matanya pun biasanya tanpa ekspresi yang jelas. Ia datar.
Banyak orang menghubungkan style ini dengan latar belakang Jokowi sebagai orang Jawa. Bukan hanya sekadar Jawa tapi juga orang Jawa di pusat kebudayaan Mataram Islam, yakni Solo. Indonesia punya dua presiden yang berasal dari area ini, yakni Suharto dan Jokowi.
Suharto terkenal dengan sebutan ‘the smiling general.’ Apa pun yang dihadapi, dia tersenyum. Orang susah menebak suasana hatinya. Juga susah menebak apa yang dimauinya dan ke mana ia akan melangkah. Kabarnya, ia tetap tersenyum bahkan ketika memerintahkan pembantaian.
Jokowi tidak terkenal karena senyumnya. Ia datar saja. Kadang tersenyum kecil. Postur tubuhnya yang kerempeng dengan jari bengkoknya yang khas membuat ia selalu diolok-olok dengan julukan ‘plonga-plongo.’ Namun, ia orang yang mampu menahan dan menyerap pukulan, makian, dan ejekan.
Dia menanggapi semua itu dengan gaya Jawa yang khas, “Aku rapopo”. Ia sebenarnya merasakan sakit hati yang amat sangat tetapi dibalikkan lewat semiotika Jawa yang elegan, “Aku rapopo”. Itu semacam “menang tanpo ngasorake”. Memukul dengan menyemburkan energi positif. Dan, hasilnya? Bum! Orang menjadi sangat bersimpati padanya.
Nah, inilah yang dalam pengamatan saya tidak terlihat pada pidatonya di Makassar. Di kesempatan ini, sangat jelas terlihat kilatan marah pada matanya. Sangat jelas terlihat dendam kesumat yang membuncah dan menuntut untuk disalurkan.
Tidak ada lagi Jokowi yang cengengesan he-he-he-he. Tidak ada lagi kemurahan hati yang memberi makan dan oleh-oleh kepada siapa saja yang mengunjunginya di rumahnya.
Dan, dia mengatakan bahwa ia akan kerja keras dan mati-matian untuk PSI. “Saya masih sanggup,” katanya. Dia berjanji akan keliling ke semua provinsi, ke kabupaten-kabupaten, dan bahkan ke kecamatan-kecamatan.
Cuma ada satu masalah: Siapakah Jokowi untuk PSI? Dia tidak ada dalam struktur. Dia bukan pengurus. Dia juga bukan organ partai. Dia tidak duduk di Dewan Pembina atau Dewan Penasihat. Juga tidak di Dewan Pengawas. Dia hanyalah bapak dari Kaesang Pangarep, yang menjadi ketua PSI hanya dua hari setelah menjadi anggota. Ya, di PSI, Jokowi cuma bapaknya Kaesang!
Seberapa besarkah pengaruh Jokowi? Apakah dia bisa mengangkat PSI menjadi parti besar, partai yang berusaha menubuhkan (embodied) dirinya dengan melabelkan ideologinya sebagai Jokowisme? Sementara, jika orang bertanya, apa itu Jokowisme, jawabnya masih … hmmm nganu!
Mungkin Jokowi masih punya residual power. Masih ada sisa-sisa orang yang mengikutinya. Namun, jaman sudah berubah. Manusia-manusia politik Indonesia itu seperti ayam. Mereka akan berkerumun di mana Anda menaburkan gabah!
Kalau kita perhatikan, berapa banyak para pekerja politik, baik partai, polisi, hingga militer, yang jadi gemuk karena program-program pemerintahan Prabowo Subianto. Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya. Program yang luar biasa besarnya, dengan manfaat yang belum jelas dan malah meracuni anak-anak Indonesia. MBG adalah program redistribusi kekayaan, terutama di kalangan sesama orang kaya berkuasa. Untuk rakyat? Emang lo kira siapa diri lo?
Begitu juga Koperasi Merah Putih. Lihat bagaimana kebijakan pemerintah berubah-ubah. Setelah gerakan koperasi dari bawah gagal, pemerintah memutuskan membuat gerai dan perlengkapan koperasi senilai 2,5 milyar. Pelaksanaannya? PT Agrinas Pangan dan Kodim setempat. Kepala desa harus menyediakan lahan yang memenuhi syarat untuk bangunan koperasi. Dan, banyak lahan yang memenuhi syarat adalah … lapangan sepak bola! Jadilah ketegangan antara rakyat dan aparat karena lapangan bermainnya jadi bangunan koperasi.
Begitu banyak program kesejahteraan untuk yang kaya dan berkuasa dilaksanakan oleh pemerintahan ini. Dan, Jokowi? Ia ada di dalamnya, tetapi tetap berdiri di luar. Dia memang tidak disingkirkan. Tapi juga tidak bisa masuk. Prabowo dan orang-orang di sekitarnya cukup pintar.
Mereka tahu, Jokowi malah akan kuat ketika digebuki. Jadi lebih baik dirangkul saja. Saya kira kekuatan terbesar Jokowi adalah ia mampu membuat orang iba dan kasihan kepadanya. Ini klasik dari politisi yang tidak menguasai tentara, polisi, atau partai. Dan, orang Indonesia adalah bangsa yang sangat pengiba. Sehingga iba bisa diakali menjadi sumber profesi. Begitu banyak orang bisa hidup dari rasa iba terhadap orang lain. Contoh paling dekat: para pengemis lampu merah!
Jika rasa iba bisa dipakai untuk hidup, mengapa tidak untuk berkuasa?(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


