BACAAJA, SEMARANG– Pemkot Semarang lewat Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) tancap gas merampungkan pembangunan gedung perpustakaan baru yang berlokasi di Srondol, Banyumanik. Kepala Dinas Arpus Kota Semarang Bambang Suranggono mengatakan, pembangunan tahap pertama sudah kelar sejak akhir Desember 2025.
Tahap ini fokus pada struktur bangunan utama. Untuk tahap pertama, anggaran yang digelontorkan berasal dari APBD Kota Semarang sebesar Rp200 juta dan Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN senilai Rp7,8 miliar.
Masuk ke tahap kedua, Pemkot menyiapkan anggaran Rp5,3 miliar dari APBD untuk menggarap interior, mebeler, hingga pengadaan buku. “Desain interiornya kita sesuaikan dengan karakter Kota Semarang, yang njawani dan jadi identitas kota,” ujar Bambang.
Baca juga: Ini Surga Buku Bekas di Semarang, Katanya Ada Versi KW Juga Sih
Ia berharap proses lelang interior bisa rampung pada Februari-Maret 2026, sehingga pengerjaan fisik tahap kedua bisa dimulai akhir Maret dan selesai sekitar Juni. “Kurang lebih pembangunannya tiga bulan. Target kami Juni sudah benar-benar siap dibuka,” katanya.
Perpustakaan Kota Semarang ini dibangun di atas lahan 1.019 meter persegi dengan empat lantai. Basement disiapkan untuk parkir, lantai satu untuk area peminjaman buku, lantai dua jadi ruang baca, ruang budaya, mini kafe, dan coworking space.
Mini Cafe
Sementara lantai tiga difungsikan sebagai ruang audio visual, lengkap dengan rooftop yang bisa dipakai buat diskusi atau acara komunitas. “Ada mini kafe, jadi baca buku bisa sambil ngopi. Rooftop juga kami siapkan biar suasananya lebih santai,” kata Bambang.
Pemkot menargetkan kunjungan harian mencapai 350-400 pemustaka, dengan ruang audio visual yang mampu menampung hingga 80 orang, termasuk untuk pemutaran film yang diadaptasi dari buku.
Baca juga: Hidden Gem Perbukuan di Semarang, ‘Books Bos’ Sediain Buku Impor Harga Lokal
Perpustakaan ini rencananya buka dari pukul 08.00 hingga 21.00 WIB, dengan sistem kerja petugas secara shift. Bahkan, Arpus juga menyiapkan petugas yang bisa berbahasa asing untuk melayani pengunjung dari mancanegara.
“Koleksi kami juga ada bahasa Arab, Mandarin, Jepang, dan tentu lebih banyak Bahasa Inggris,” tambahnya. Kalau nanti masih bilang malas ke perpustakaan, mungkin masalahnya bukan di bukunya, tapi di niat bacanya. Soalnya di Semarang, perpus aja sudah siap ngopi, nongkrong, dan diskusi. Tinggal warganya mau buka buku atau cuma buka WiFi. (tebe)


