BACAAJA, SEMARANG – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti-Penjajahan menggelar aksi di kawasan depan Masjid Baiturrahman, Semarang, Jumat (13/03/2026).
Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Indonesia dalam organisasi yang mereka sebut sebagai Board of Peace (BOP).
Para peserta aksi terlihat membawa berbagai poster serta sebuah spanduk besar bertuliskan “Mahasiswa Semarang Menggugat: Indonesia Wajib Keluar dari BOP.”
Aksi berlangsung di pinggir jalan dengan pengamanan sederhana, sementara beberapa mahasiswa secara bergantian menyampaikan orasi di depan massa.
Koordinator lapangan aksi, Reza (23), mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk sikap mahasiswa terhadap kebijakan luar negeri Indonesia yang dinilai tidak sejalan dengan semangat anti-penjajahan.
Bacaaja: Dosen dan Ketua BEM SCU Bikin Buku Panduan Demo: Jangan Asal Turun Jalan!
Bacaaja: BoP Kesalahan Paling Epik Prabowo
“Kami menilai keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace tidak sejalan dengan prinsip anti-penjajahan yang selama ini menjadi sikap resmi negara. Karena itu kami mendesak pemerintah untuk segera keluar dari organisasi tersebut,” ujarnya, koordinator lapangan aksi. Jum’at (13/03/2026)
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di tengah aksi, Aliansi Mahasiswa Anti-Penjajahan menyampaikan beberapa tuntutan kepada pemerintah.
Pertama, mereka menuntut Pemerintah Indonesia untuk segera membatalkan keikutsertaan dan keluar dari Board of Peace (BOP).
Kedua, mereka mengingatkan penguasa bahwa tunduk pada struktur militer yang dikomandoi negara penjajah dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap prinsip anti-penjajahan serta dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai syariat.
Ketiga, massa aksi mendesak pemerintah agar kembali pada politik luar negeri yang independen dengan menolak segala bentuk intervensi asing, serta memprioritaskan kekuatan militer untuk mendukung pembebasan Palestina.
Keempat, mereka juga menyerukan persatuan umat Islam dan negara-negara Islam di dunia untuk bersatu serta melakukan mobilisasi kekuatan dalam rangka membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis.
Sepanjang aksi berlangsung, para mahasiswa menyampaikan orasi secara bergantian sambil mengibarkan bendera dan mengangkat poster tuntutan. Beberapa pengguna jalan tampak memperhatikan jalannya aksi yang berlangsung di depan kawasan masjid tersebut.
Aksi berlangsung dengan tertib hingga selesai. Para mahasiswa berharap tuntutan yang mereka sampaikan dapat menjadi perhatian pemerintah, khususnya terkait sikap Indonesia terhadap isu Palestina dan hubungan internasional yang dinilai berkaitan dengan konflik tersebut.
Al Quds Day di depan Gubernuran

Terpisah, peringatan Al-Quds Day digelar di depan kantor Gubernur Jawa Tengah (Gubernuran), di Kota Semarang, yang dihadiri berbagai kelompok umat Islam.
Panitia acara, Ali Salman 24 dari Pandu Ahlulbait Pimcap Banyumas, mengatakan bahwa kegiatan tahun ini dihadiri oleh umat Islam dari berbagai latar belakang.
“Acara kali ini tidak hanya dihadiri oleh kalangan Syiah saja, tetapi juga dihadiri oleh saudara-saudara kita dari kalangan Sunni atau Ahlusunah wal Jamaah dan kelompok muslim lainnya,” jelasnya.
Menurut Ali, keterlibatan berbagai kelompok tersebut menunjukkan bahwa isu Palestina mampu menyatukan umat Islam tanpa melihat perbedaan mazhab.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. (dul)


