BACAAJA, SEMARANG – Fenomena pelajar yang makin berani bersuara diakui langsung siswa SMAN 4 Semarang, Emir luqman. Emir yang juga aktivis Forum Anak Jawa Tengah ini melihat tren itu terjadi di lingkungan sekolahnya.
Ia bilang, sekarang banyak anak SMA mulai tertarik untuk ikut menyuarakan pendapat. Bahkan, keberanian untuk vokal sering dianggap sebagai sesuatu yang keren di kalangan pelajar.
“Tapi memang belum semua paham cara yang tepat,” ujarnya saat diskusi bertema ‘No Chaos, No Justice?’ dalam program Titik Kumpul 2 SKS hasil kerja sama Peradi SAI dengan media BacaAja, di Semarang, Rabu (8/4/2026).
Bacaaja: Ihwal Unjukrasa Pelajar, Disdikbud Jateng: Demo Boleh tapi Jangan Gampang Kena Hasutan
Bacaaja: Ribuan Pelajar Papua Kembali Demo Tolak MBG, Serempak Bilang Setuju!
Menurut Emir, situasi ini terlihat jelas sejak momen Demo MayDay hingga “Agustus Kelabu” kemarin. Banyak pelajar ikut terlibat, meski tidak semuanya benar-benar mengerti tujuan dan risikonya.
Dari hasil diskusi Forum Anak Jateng bersama DP3A P2KB, terungkap alasan pelajar ikut aksi beragam. Ada yang penasaran, ada juga yang mengira turun ke jalan adalah satu-satunya cara menunjukkan kepedulian.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ia menyoroti adanya pelajar di Semarang yang sampai berurusan dengan hukum karena ikut aksi anarkis saat Agustus lalu.
Hal ini jadi bukti kalau keberanian tanpa pemahaman bisa berujung masalah. Banyak yang akhirnya justru dirugikan karena ikut-ikutan.
“Memang mungkin cara yang kemarin dilakukan masih kurang tepat. Nah, sehingga harapannya dapat diberikan edukasi-edukasi bagaimana sebenarnya tata cara agar anak-anak ini juga bisa menyampaikan aspirasi,” kata Emir.
Menurutnya, menyampaikan aspirasi tidak harus lewat aksi di jalan. Masih banyak cara lain yang lebih aman dan tetap bisa didengar.
Selain itu, ia juga menyoroti peran media sosial. Menurutnya, banyak ajakan aksi yang tersebar, tapi tidak semuanya sehat atau benar.
Karena itu, pelajar perlu punya kemampuan menyaring informasi. Penting untuk bisa membedakan mana yang membangun dan mana yang sekadar provokasi.
Soal edukasi, ia mengaku di sekolahnya belum ada pembahasan khusus. Terutama soal cara menyampaikan aspirasi yang benar dan aman menjelang aksi MayDay 2026.
Kondisi ini jadi catatan penting. Ia berharap ke depan ada edukasi lebih jelas, supaya pelajar tetap bisa vokal tanpa harus terjebak cara-cara yang berisiko. (bae)


