BACAAJA, JAKARTA – Panas ekstrem bukan cuma bikin aktivitas harian terasa menyiksa. Kondisi ini ternyata juga membawa risiko serius bagi ibu hamil dan bayi, mulai dari kelahiran prematur hingga bayi lahir dengan berat badan rendah.
Kepala iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Simon Stiell bakal mengangkat persoalan tersebut dalam pertemuan pre-COP31 di Nadi, Fiji, Senin, 5 Oktober 2026. Ia akan menyampaikan bahwa suhu yang terus naik akibat perubahan iklim mulai menjadi ancaman nyata bagi kesehatan ibu dan bayi.
Peringatan itu diperkuat hasil survei terhadap sekitar 1.000 dokter dan bidan di lima negara. Lebih dari dua pertiga tenaga kesehatan yang disurvei mengaku dalam lima tahun terakhir pernah melihat komplikasi yang mereka kaitkan dengan paparan panas ekstrem.
Panas Jadi Ancaman Baru bagi Kehamilan
Stiell menyebut kenaikan suhu membuat risiko selama masa kehamilan ikut meningkat. Paparan panas ekstrem kini semakin sering dikaitkan dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat badan lahir rendah, hingga berbagai komplikasi pada ibu.
Menurut dia, dampak perubahan iklim terhadap kehamilan mulai menjadi salah satu titik rawan dalam krisis iklim global. Kondisi tersebut dinilai bisa memperbesar penderitaan masyarakat yang tinggal di wilayah paling rentan terhadap cuaca ekstrem.
Para ilmuwan sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Rekor suhu pun terus pecah di sejumlah wilayah dunia.
Analisis AFP berdasarkan data observatorium iklim Uni Eropa, Copernicus, mencatat sekitar 33 negara mengalami Juli terpanas sepanjang sejarah pencatatan pada tahun ini. Negara-negara tersebut tersebar dari Eropa Barat, kawasan Sahel hingga Amerika Tengah.
Dokter Mulai Melihat Dampaknya
Survei yang menjadi dasar peringatan PBB dilakukan terhadap sekitar 1.000 bidan dan dokter di Inggris, Australia, India, Brasil, serta Zimbabwe. Penelitian tersebut digelar atas permintaan Wellcome, yayasan yang bergerak di bidang kesehatan dan penelitian.
Hampir seluruh tenaga kesehatan yang ikut survei mengaku pernah menangani ibu atau bayi yang mengalami masalah dan dinilai berkaitan dengan panas ekstrem. Temuan itu menunjukkan bahwa dampak gelombang panas terhadap kesehatan bukan lagi sekadar kekhawatiran di atas kertas.
Sekitar sepertiga responden bahkan pernah menangani kasus berat badan lahir rendah, pertumbuhan janin terhambat, kesulitan menyusu, dehidrasi, hingga penyakit akibat panas. Para tenaga kesehatan tersebut mengaitkan sejumlah kasus dengan suhu ekstrem yang dialami pasien.
Kondisi tersebut membuat ibu hamil dan bayi masuk dalam kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih saat gelombang panas melanda. Risiko kesehatan dapat menjadi semakin berat ketika suhu tinggi berlangsung dalam waktu lama.
Julia Gillard: Panas Ekstrem Itu Pembunuh Diam-Diam
Ketua Wellcome sekaligus mantan Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengatakan perubahan iklim membuat posisi ibu dan bayi semakin rentan. Menurutnya, dampak panas ekstrem tidak boleh dianggap remeh.
Gillard menyebut panas ekstrem sebagai pembunuh yang kerap tidak terlihat. Masalahnya, ibu hamil tidak selalu punya pilihan untuk menghindar dari kondisi panas yang terjadi di lingkungan mereka.
Ia menilai para pemimpin dunia sebenarnya sudah memiliki bukti dan solusi untuk mengurangi dampak panas terhadap kesehatan ibu dan bayi. Persoalannya sekarang adalah seberapa cepat langkah tersebut benar-benar dijalankan.
PBB Minta Ancaman Ini Jangan Diabaikan
Stiell akan membawa isu tersebut ke hadapan delegasi dalam pertemuan pre-COP31. Ia mengingatkan bahwa kehamilan semestinya menjadi fase penuh harapan, bukan justru berubah menjadi masa yang dipenuhi kecemasan akibat krisis iklim.
Menurut Stiell, dampak perubahan iklim kini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya terlihat dari meningkatnya ancaman panas ekstrem terhadap perempuan selama masa kehamilan.
Isu ini sekaligus memperluas perhatian terhadap dampak perubahan iklim di sektor kesehatan. Kelompok rentan seperti ibu hamil dan bayi dinilai membutuhkan perlindungan lebih kuat ketika suhu ekstrem makin sering terjadi.
Pre-COP31 Jadi Panggung Negara Pasifik
Pertemuan pre-COP31 digelar di Fiji dan atol karang terpencil Tuvalu. Negara-negara Pasifik melihat forum tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan langsung bagaimana masyarakat di kawasan mereka menghadapi dampak perubahan iklim.
Forum pre-COP merupakan rangkaian menuju COP31, konferensi iklim global yang disponsori PBB. COP31 dijadwalkan berlangsung di Turki pada bulan depan.
Ancaman panas ekstrem terhadap kehamilan diperkirakan bakal semakin mendapat sorotan dalam pembahasan perubahan iklim. Bukan hanya soal suhu yang naik, tetapi juga bagaimana kondisi tersebut bisa berdampak langsung terhadap keselamatan ibu dan bayi. (*)

